Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
HEADLINEMamasa

Bertaruh Nyawa Demi Pendidikan! Anak-anak SD di Palado Meniti Dua Batang Kayu di Atas Sungai Aralle, Jembatan Dihantam Banjir Dua Kali

283
×

Bertaruh Nyawa Demi Pendidikan! Anak-anak SD di Palado Meniti Dua Batang Kayu di Atas Sungai Aralle, Jembatan Dihantam Banjir Dua Kali

Sebarkan artikel ini

DentumNusantara.comMAMASA – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur, puluhan warga Dusun Palado, Desa Indobanua, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, justru harus menghadapi kenyataan pahit. Demi bersekolah, bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka terpaksa mempertaruhkan nyawa meniti jembatan darurat yang nyaris putus di atas derasnya aliran Sungai Aralle.

Kondisi memprihatinkan ini bermula saat banjir Sungai Aralle pada 16-17 Mei 2026 menghantam Jembatan Palado, satu-satunya akses yang menghubungkan warga dengan sekolah, kebun, serta pusat aktivitas masyarakat.

Tidak ada alat berat. Tidak ada jembatan darurat dari pemerintah. Dengan kemampuan seadanya, masyarakat Palado bergotong royong menyelamatkan akses mereka sendiri. Empat batang balok kayu dipasang dan diikat menggunakan rotan agar jembatan yang membentang di atas sungai sepanjang kurang lebih 60 meter itu masih bisa dilalui.

Upaya swadaya warga tersebut sempat memberi harapan. Namun harapan itu tidak bertahan lama.

Pada 18 Mei 2026, Tim BPBD Kabupaten Mamasa turun ke lokasi untuk melakukan asesmen terhadap kerusakan jembatan. Akan tetapi sebelum ada penanganan lebih lanjut, bencana kembali datang.

Pada 2 Juni 2026, banjir Sungai Aralle kembali mengamuk. Sebatang kayu berukuran sekitar empat meter yang terbawa arus deras menghantam jembatan yang sebelumnya diperbaiki secara gotong royong oleh warga.

Hantaman tersebut membuat kondisi jembatan kembali rusak parah. Plat besi yang menjadi lantai jembatan dilaporkan hanyut diseret derasnya arus sungai. Akses yang sebelumnya sudah dalam kondisi darurat berubah menjadi semakin mengkhawatirkan.

Meski demikian, masyarakat tidak memiliki pilihan lain.

Agar roda kehidupan tetap berjalan, warga kembali turun tangan. Mereka memasang dua batang balok kayu seadanya sebagai jalur penyeberangan darurat. Dua batang kayu itulah yang kini menjadi tumpuan harapan sekaligus pertaruhan nyawa bagi warga Dusun Palado.

Setiap hari, anak-anak sekolah harus melintasi jalur tersebut untuk mendapatkan pendidikan.

Salah satunya adalah Sakira, siswi kelas 1 SD/MI Dusun Palado. Pada Rabu, 3 Juni 2026 sekitar pukul 07.45 WITA, Sakira tetap berangkat ke sekolah dengan diantar oleh tantenya, Ani, melewati jembatan yang rusak akibat banjir.

Ani mengaku warga sebenarnya dihantui rasa takut setiap kali melintas. Namun karena tidak ada akses lain, mereka terpaksa mengambil risiko.

«”Tidak adami jalan lain. Meski merasa takut tapi kami tidak bisa apa-apa lagi. Anak-anak harus tetap bersekolah dan jembatan ini satunya jalan yang harus dilewati oleh kami warga Palado baik keluar dan ke kebun,” ungkap Ani.»

Penderitaan warga tidak berhenti pada rusaknya jembatan. Banjir juga memutus bentangan pipa air bersih yang selama ini menjadi sumber kebutuhan masyarakat. Akibatnya, warga kini menghadapi krisis akses transportasi sekaligus gangguan distribusi air bersih.

Saat dikonfirmasi wartawan pada 2 Juni 2026 pukul 17.52 WITA terkait tindak lanjut hasil asesmen lapangan, Kepala BPBD Mamasa memberikan tanggapan melalui pesan singkat.

«”Selamat sore ..ini sudah di sampaikan ke PU, nanti kami konfirmasi ulang.”»

Dalam pesan berikutnya, Kepala BPBD Mamasa kembali menyampaikan bahwa laporan kerusakan telah diteruskan kepada instansi teknis terkait.

«”Iya ..sudah kami teruskan ke Kabid Jalan dan Jembatan Dinas PU.”»

Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya penanganan fisik terhadap Jembatan Palado. Sementara itu, anak-anak sekolah, petani, dan masyarakat umum masih harus meniti dua batang balok kayu di atas Sungai Aralle yang sewaktu-waktu dapat kembali diterjang banjir.

Di saat akses pendidikan, ekonomi, dan kebutuhan dasar masyarakat bergantung pada jembatan tersebut, warga Palado kini hanya bisa berharap agar pemerintah segera mengambil langkah nyata sebelum jatuh korban di lokasi yang setiap hari dilalui masyarakat untuk bertahan hidup.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *