Opini: Oleh Muh Ikbal (Pamoseang Institute)
DentumNusantara.com, Mamasa- Senja di ufuk barat adalah suatu pertanda. Matahari perlahan pamit, warna jingga ditelan cakrawala, dan malam sebentar lagi menyelimuti semesta.
Di banyak tempat, datangnya malam bukan perkara yang perlu dirisaukan. Tinggal menekan sakelar, lampu menyala, rumah terang, televisi hidup, magic com tetap menghangatkan nasi, dan telepon genggam bisa kembali menjadi jendela menuju dunia yang entah kenapa isinya lebih banyak orang berjoget daripada membaca buku.
Namun di Dusun Sambaho, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, datangnya malam mempunyai cerita yang lain.
Samar rasanya memandang pemandangan malam di Sambaho. Sulit membedakan mana embun yang perlahan menyelimuti rumah-rumah warga dan mana cahaya bintang yang bertaburan di langit.
Di bawah bentangan semesta yang luas itu, sekitar 30 kepala keluarga menjalani malam dengan penerangan yang terbatas. Bintang-bintang di langit seolah menjadi lampu paling murah yang disediakan alam cahayanya kecil, tetapi cukup untuk menyisakan secuil harapan bahwa terang suatu hari akan tiba juga.
Barangkali bagi orang kota, pemandangan seperti itu romantis.
Langit penuh bintang, udara dingin, embun turun dan suasana hening.
Cocok untuk menulis puisi atau mengunggah foto dengan keterangan “healing”.
Tetapi bagi masyarakat Sambaho, gelap gulita bukanlah destinasi wisata di atas gunung dengan ketinggian 1.200 mdp.
Gelap adalah keseharian untuk masyarakat. Dusun Sambaho telah dihuni masyarakat sejak sekitar tahun 1970-an. Puluhan tahun mereka hidup di wilayah tersebut dengan segala keterbatasan penerangan.
Generasi berganti, zaman berubah, teknologi berlari seperti dikejar utang, tetapi terang belum sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Pada awal 2025, listrik PLN memang mulai menyala di beberapa dusun di Desa Pamoseang. Sebuah kabar yang tentu patut disyukuri. Namun kabar baik itu belum sampai ke Sambaho.
Sampai sekarang, masyarakat Sambaho belum menikmati listrik PLN. Yang mereka dengar masih berupa harapan dan janji bahwa jaringan listrik akan masuk ke wilayah mereka.
Janji, seperti yang kita ketahui, adalah benda yang sangat ringan. Janji bisa dibawa ke mana-mana tanpa kabel, tanpa tiang, tanpa gardu, dan bahkan tanpa token yang harganya tiap tahun naik
Sayangnya, janji tidak bisa menyalakan lampu. Anak-anak sekolah dasar tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan janji.
Ibu rumah tangga tidak bisa menyiapkan makan malam dengan janji. Dan rumah yang gelap tidak akan menjadi terang hanya karena pemerintah mengatakan, “Insyaallah segera.”
Di tengah perdebatan mengenai pemadaman listrik bergilir selama kurang lebih empat jam di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kisah Sambaho menjadi semacam cermin yang diletakkan di sudut ruangan kosong yang bersebrangan langsung dengan ruang rapat gubernur dan direktur PLN.
Pada saat yang sama masyarakat ramai mengeluhkan listrik padam. Dan mereka memang berhak mengeluh.
Empat jam tanpa listrik di zaman sekarang bukanlah perkara sepele. Es batu mencair. Es lilin yang disimpan di kulkas kehilangan bentuk dan masa depannya. Nasi yang sedang dimasak di magic com bisa berhenti pada tahap yang tidak jelas. Ponsel mendadak low battery. Anak-anak yang sedang bermain Roblox juga harus berhenti.
Ibu-ibu yang sedang membuka Facebook fro, membuat konten, atau berburu monetisasi Meta juga harus menerima kenyataan bahwa perjuangan mendapatkan cuan ternyata masih sangat bergantung pada sesuatu yang bernama listrik.
Barangkali di sinilah letak kelucuan zaman kita. Manusia sudah mampu mengirim video ke belahan dunia lain dalam hitungan detik, tetapi masih bisa kebingungan ketika listrik padam.
Namun masyarakat Sambaho punya pengalaman yang lebih panjang. Mereka tidak sedang menghitung empat jam atau beberapa jam baru listrik kembali menyala.
Masyarakat Sambaho menghitung puluhan tahun, ibu dan anak Dusun sambaho menghitung berapa generasi yang hidup dalam keadaan gelap gulita
Dusun Sambaho telah dihuni sejak dekade 1970-an. Bagi masyarakat di sana, gelap bukan gangguan sementara yang datang karena pemadaman. Gelap adalah bagian dari sejarah kehidupan mereka dan generasi yang akan datang
Anak-anak yang hendak belajar harus menyesuaikan diri dengan malam. Ibu rumah tangga yang hendak menyajikan makan malam bagi anak dan suaminya harus menjalankan aktivitas dalam penerangan terbatas.
Sederhana, tetapi tidak sederhana bagi mereka. Sebab bagi anak-anak sekolah dasar, cahaya lampu adalah simbol kemerdekaan dan derajat pengetahuan.
Cahaya adalah kesempatan untuk membaca, kesempatan untuk menulis, kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan kesempatan untuk belajar sedikit lebih lama sebelum tidur.
Maka ketika kita ribut mengenai pemadaman listrik, sesungguhnya kita tidak sedang membicarakan kabel, tiang, gardu, turbin, atau berapa miliar anggaran yang diserap oleh APBN melalui PLN.
Tetapi masyarakat kita sedang membicarakan masa depan anak-anak yang masih hidup dalam kegelapan yang puluhan tahun sudah gulita
Persoalan Sambaho kemudian menjadi semakin rumit karena masyarakat memiliki turbin listrik yang menjadi salah satu sumber energi. Turbin pertama disebut dibangun pada 2008. Kemudian pada 2024 dilakukan penambahan turbin kedua.
Namun menurut keterangan Kamaruddin, 50 tahun, masyarakat Dusun Sambaho, dan Zainal, 50 tahun, masyarakat Dusun Sambaho Satu, turbin mengalami kerusakan berulang dalam kurun 2024 hingga 2026.
Pada sekitar Maret 2025, turbin sempat diperbaiki. Tetapi menurut keterangan masyarakat, perbaikan tersebut hanya membuat turbin berfungsi kurang lebih satu minggu sebelum Idulfitri. Setelah itu, kerusakan kembali terjadi.
Turbin rupanya juga mengenal konsep “balikan”. Baru sembuh, kambuh lagi.
Bedanya, manusia yang sakit bisa berobat. Turbin membutuhkan biaya, teknisi, pemeliharaan, dan pengelolaan yang jelas.
Menurut keterangan masyarakat, belum tersedia anggaran khusus yang memadai dari pemerintah desa untuk perawatan rutin turbin. Ketika terjadi kerusakan, masyarakat harus mengandalkan swadaya.
Tiga operator Dahman, Dahlan, dan Tasri ditunjuk masyarakat untuk melakukan pembersihan serta pengecekan dinamo dan saluran air. Mereka memperoleh upah berdasarkan kesepakatan masyarakat melalui iuran sebesar lima ribu rupiah untuk setiap pengguna.
Lokasi turbin sendiri berada sekitar dua kilometer dari permukiman.
Maka jangan heran jika masyarakat akhirnya memiliki hubungan yang agak filosofis dengan listrik.
Listrik ditunggu, turbin dirawat, iuran dikumpulkan, kerusakan datang, turbin diperbaiki, listrik menyala sebentar lalu gelap lagi.
Siklusnya hampir seperti musim, hanya saja tidak ada kalender yang bisa memastikan kapan terang akan kembali.
Dusun Sambaho Dua disebut terdiri dari 21 kepala keluarga dengan 18 rumah, sedangkan Sambaho Satu memiliki 16 kepala keluarga dengan 8 rumah yang memanfaatkan turbin listrik.
Jumlah mereka memang tidak banyak. Tetapi bukankah hak atas pelayanan dasar tidak pernah mengenal sistem voting?
Lima puluh rumah penghuninya tetap manusia bukan.?
Tiga puluh kepala keluarga tetap warga negara ini bukan.?
Satu anak yang kesulitan belajar tetap merupakan masa depan daerah bukan.?
Karena itu, persoalan Sambaho seharusnya tidak dilihat sebagai perkara kecil hanya karena jumlah penduduknya tidak sebesar kota.
Justru masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil seperti Sambaho membutuhkan keberpihakan pembangunan yang lebih nyata. Sebab mereka tidak memiliki kemudahan akses sebagaimana masyarakat di pusat kota.
Mereka sudah cukup lama bersabar. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepastian. Jika listrik PLN memang direncanakan masuk, kapan?
Jika terdapat kendala teknis, apa kendalanya?
Jika persoalannya anggaran, bagaimana solusinya?
Jika jalurnya membutuhkan waktu, berapa lama masyarakat harus menunggu?
Pertanyaan semacam ini bukan bentuk pembangkangan kepada pemerintah. Ini justru bentuk sikap nasionalisme yang sehat bukan.?
Masyarakat Sambaho tidak sedang meminta lampu kristal atau listrik yang bisa membuat nasi goreng sendiri.
Mereka hanya meminta penerangan dan permintaan tersebut rasanya tidak terlalu muluk-muluk untuk sebuah negara yang setiap hari Presiden, Gubernur, dan Bupati nya berbicara tentang pembangunan dan pemerataan.
Maka ketika pemadaman empat jam menjadi bahan pembicaraan hangat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kita patut berhenti sejenak.
Bukan untuk menyalahkan mereka yang mengeluh. Tetapi untuk mengingat mereka yang bahkan belum sampai pada tahap bisa mengeluh soal listrik PLN.
Sebab ada perbedaan yang sangat jauh antara listrik padam dan listrik belum masuk.
Yang pertama membuat kita menunggu empat jam.
Yang kedua membuat satu masyarakat menunggu puluhan tahun.
Dan mungkin itulah ironi paling pahit dari perkara pemadaman listrik bergilir ini.
Kita hidup di zaman ketika manusia bisa berburu monetisasi melalui Facebook, bermain Roblox, menonton TikTok sampai lupa waktu, dan mengirim pesan ke orang di benua lain.
Tetapi di Dusun Sambaho, cahaya bintang masih menjadi salah satu penerangan yang paling setia.
Bintang memang indah, tetapi cahayanya tidak cukup terang untuk anak-anak di Sambaho mengerjakan PR.
Cahaya bintang tidak cukup untuk memasak makan malam di Sambaho.
Cahaya bintang tidak cukup untuk menghidupkan kulkas agar es lilin masih memiliki masa depan terjual disiang hari.
Dan bintang, seindah apa pun cahayanya, tidak seharusnya dipaksa menggantikan tugas listrik negara dapat dirasakan sampai ke pelosok desa seperti dusun Sambaho.
Maka kepada PLN dan pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, persoalan Sambaho layak dilihat dengan lebih saksama.
Sambaho bukanlah sekadar sebagai wilayah yang jauh dengan akses yang sangat terisolasi oleh kegelapan.
Sambaho bukanlah sekadar sebagai dusun yang terdaftar dalam dokumen administrasi pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat.
Masyarakat Sambaho tidaklah sekadar sebagai data statistik yang bulan lalu didatangi oleh petugas sensus ekonomi.
Di sana ada manusia yang telah menunggu sejak 1970-an. Ada ibu yang setiap malam menunggu terang, ada anak-anak yang ingin belajar. Ada keluarga yang ingin menjalani kehidupan sebagaimana masyarakat lain. Dan ada sekitar 30 keluarga yang mungkin sudah terlalu lama akrab dengan gelap.
Pemadaman empat jam memang bisa membuat kita panik. Tetapi masyarakat Sambaho telah belajar hidup tanpa kepastian kapan terang akan kunjung datang.
Mereka sudah berdamai dengan gelap. Yang barangkali belum berdamai adalah kita terutama dengan pertanyaan sederhana yang terus menggantung di antara embun malam dan taburan bintang.?
Kapan terang itu benar-benar sampai ke Sambaho?
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan janji yang indah seperti cahaya bintang.
Mereka membutuhkan listrik yang nyata. Yang bisa dinyalakan, yang bisa digunakan, yang bisa menerangi rumah. Dan yang, mudah-mudahan, tidak membuat mereka harus menunggu satu generasi lagi.(*)
























