DentumNusantara.com, MAMASA — Bagi petani, pupuk bukan sekadar sarana produksi. Di tengah biaya pertanian yang terus menekan, pupuk kerap menjadi pengeluaran yang harus ditebus dengan menjual sebagian hasil panen. Karena itu, ketika pemerintah menghadirkan program pupuk gratis, dampaknya langsung terasa di tingkat petani.
Tambrin, aktivis Wilayah 3 sekaligus petani kakao Kabupaten Mamasa, menyatakan mendukung sepenuhnya program pupuk gratis yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Mamasa.
Ia menilai antusiasme masyarakat, terutama petani penggarap sawah dan kebun, menunjukkan bahwa program tersebut menyentuh kebutuhan yang selama ini menjadi beban petani.
“Antusias masyarakat dan para petani, baik petani penggarap sawah maupun kebun, sangat baik. Kami benar-benar merasakan dampaknya,” kata Tambrin.
Sebagai petani kakao, Tambrin mengatakan dirinya merasakan langsung manfaat program tersebut. Sebelum adanya bantuan pupuk, ia harus mengeluarkan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu untuk memenuhi kebutuhan pupuk setiap musim tanam.
Kini, sebagian biaya itu dapat ditekan. Uang yang sebelumnya tersedot untuk membeli pupuk bisa dialihkan untuk kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak.
“Secara pribadi saya sangat terbantu. Sejak adanya program pupuk gratis, kami tidak lagi membeli pupuk seperti sebelumnya. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli pupuk bisa dipergunakan untuk kebutuhan lain, seperti membiayai anak-anak sekolah dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” ujarnya.
Bagi Tambrin, dampak program tersebut sebenarnya sederhana untuk diukur. Ketika biaya produksi turun, hasil panen yang sebelumnya harus dijual untuk membeli pupuk dapat dipertahankan lebih banyak oleh petani.
Ia mencontohkan kondisi yang dialami petani sebelum program tersebut berjalan. Tidak jarang, sebagian hasil produksi sawah harus dijual kembali hanya untuk menutup biaya pembelian pupuk.
“Rumusnya sederhana. Sebagai petani, baik penggarap sawah maupun penggarap kebun, saya bisa menghemat pembelian pupuk setiap kali musim tanam,” katanya.
“Bayangkan, hasil produksi sawah kami kadang harus dijual setengahnya untuk membeli pupuk. Setelah ada bantuan ini, kami tidak lagi menjual setengah hasil panen hanya untuk membeli pupuk. Artinya, ada peningkatan yang kami rasakan,” ujar Tambrin.
Menurut dia, manfaat program tersebut juga tidak hanya menyentuh sektor pangan. Jenis pupuk yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk berbagai komoditas pertanian dan perkebunan.
Pupuk urea, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk tanaman pangan, sementara pupuk NPK Phonska juga dapat digunakan petani untuk tanaman kakao dan komoditas perkebunan lainnya.
“Untuk pupuk gratis Phonska, kami petani masih bisa mempergunakannya untuk tanaman kakao dan tanaman lainnya. Jadi yang dihasilkan bukan hanya produksi pangan, tetapi juga hasil kebun,” katanya.
Tambrin menilai kebijakan pupuk gratis perlu dipandang sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap petani. Sebab persoalan petani tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan panen, tetapi juga bagaimana mempertahankan hasil tersebut setelah dipotong berbagai biaya produksi.
Menurut dia, ketika biaya pupuk dapat ditekan, petani memiliki kesempatan lebih besar mengalokasikan pendapatannya untuk kebutuhan lain. Dalam konteks keluarga petani, penghematan tersebut bisa berarti biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, hingga tambahan modal untuk mengelola kebun.
Karena itu, Tambrin memberikan apresiasi terhadap Bupati dan Wakil Bupati Mamasa atas program pupuk gratis tersebut.
“Ini adalah langkah nyata dalam menjawab harapan masyarakat Mamasa pada umumnya, khususnya masyarakat petani. Semua ini tentu patut diapresiasi,” katanya.
Bagi petani kecil, kata Tambrin, bantuan pupuk bukan sekadar angka dalam program pemerintah. Manfaatnya dapat dihitung dari uang yang tidak lagi keluar dari kantong, hasil panen yang tidak perlu dijual untuk membeli pupuk, serta kebutuhan keluarga yang bisa dipenuhi dari penghematan tersebut.
Di atas lahan sawah maupun kebun kakao, kebijakan itu akhirnya diuji oleh satu pertanyaan sederhana: apakah benar mengurangi beban petani?
- Tambrin mengatakan, setidaknya bagi dirinya dan sejumlah petani yang merasakan manfaatnya, jawabannya sudah mulai terlihat.(*)




























