DENTUMNUSANTARA.COM, NASIONAL, — Di balik riuhnya peringatan Hari Buruh setiap 1 Mei, ada satu kelompok pekerja yang kerap luput dari sorotan: awak media. Mereka hadir di garis depan, meliput suara buruh, menyampaikan tuntutan, dan merekam dinamika jalanan. Namun ironisnya, sebagian dari mereka masih bergulat dengan persoalan yang tak jauh berbeda—kesenjangan sosial.
Pagi itu, saat ribuan buruh memadati jalan dengan spanduk dan suara lantang, seorang jurnalis muda berdiri di sudut keramaian. Kamera di tangan, ponsel di saku, dan tenggat waktu di kepala. Ia bukan peserta aksi, tetapi tanpa kehadirannya, cerita tentang perjuangan itu mungkin tak akan pernah sampai ke publik. Sayangnya, cerita tentang dirinya sendiri jarang sekali terdengar.
Di banyak daerah, awak media—terutama di level lokal—masih bekerja dalam kondisi yang jauh dari kata sejahtera. Upah yang tidak menentu, bahkan kadang di bawah standar, menjadi kenyataan yang harus diterima. Belum lagi minimnya jaminan kesehatan, perlindungan kerja, hingga kontrak yang jelas. Mereka dituntut profesional, tetapi tidak selalu diperlakukan secara profesional.
Kesenjangan ini semakin terasa ketika dibandingkan dengan peran strategis yang mereka emban. Jurnalis adalah pilar demokrasi, penjaga arus informasi, sekaligus pengawas kebijakan publik. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit yang harus merangkap pekerjaan lain demi mencukupi kebutuhan hidup. Ada yang menjadi kontributor lepas tanpa kepastian honor, ada pula yang harus membeli peralatan kerja sendiri tanpa dukungan perusahaan.
Di Hari Buruh, tuntutan tentang upah layak dan perlindungan kerja semestinya juga menyentuh mereka. Awak media bukan hanya penyampai pesan, tetapi juga pekerja yang berhak atas kesejahteraan. Ketika buruh dari sektor lain menyuarakan haknya, jurnalis justru sering kali terjebak dalam dilema—meliput atau bersuara.
Meski demikian, di tengah keterbatasan, dedikasi mereka tetap menyala. Mereka terus menulis, merekam, dan menyampaikan fakta, bahkan dalam kondisi yang tidak ideal. Ada keyakinan bahwa informasi yang jujur dan berimbang tetap harus sampai ke masyarakat.
Hari Buruh seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan hanya bagi perusahaan dan pemerintah, tetapi juga bagi industri media itu sendiri. Sudah sejauh mana kesejahteraan awak media diperhatikan? Sudahkah mereka mendapatkan perlindungan yang layak?
Sebab pada akhirnya, keadilan sosial tidak boleh berhenti pada satu kelompok saja. Di antara suara-suara yang diliput, ada suara yang masih perlu diperjuangkan—suara para awak media itu sendiri.




















