Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
ReligiParepare

Ratusan Jamaah Majelis Syuhada Padati Masjid Al Mujahidin, Semangat “Putihkan & Rapatkan Shaf” Kembali Menggema

95
×

Ratusan Jamaah Majelis Syuhada Padati Masjid Al Mujahidin, Semangat “Putihkan & Rapatkan Shaf” Kembali Menggema

Sebarkan artikel ini

DENTUMNUSANTARA.COM, , PAREPARE — Suasana Masjid Al Mujahidin, Jl. Raya Bacukiki, Parepare, tampak berbeda pada Jumat, 11 September 2026. Sejak sebelum fajar, ratusan jamaah telah berdatangan untuk mengikuti Safari Sholat Subuh Berjamaah yang digelar Majelis Syuhada Kota Parepare.

Dimulai sekitar pukul 04.00 WITA, gema takbir dan lantunan doa mengiringi berkumpulnya para jamaah dalam semangat “Putihkan & Rapatkan Shaf”.

Safari Subuh kali ini tidak hanya menjadi momentum untuk menunaikan ibadah berjamaah, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah, menghidupkan masjid, serta mengingatkan kembali pentingnya kebersamaan umat di waktu Subuh yang penuh keberkahan.

Masjid Tertua dengan Sejarah Panjang

Kehadiran ratusan jamaah mendapat sambutan hangat dari Ketua DKM Masjid Al Mujahidin, H. Saharuddin, SE.

Di hadapan jamaah, ia mengungkapkan perjalanan panjang masjid yang dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kota Parepare tersebut.

“Selamat datang di masjid tertua di Parepare. Dulu ini awalnya langgar tahun 1890, lalu jadi Masjid Tua Bacukiki tahun 1901, dan bangunan barunya berdiri tahun 1906,” ungkapnya.

H. Saharuddin juga mengajak jamaah melihat sejumlah artefak peninggalan sejarah yang masih tersimpan, di antaranya puncak menara lama dan bedug tua.

Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan bahwa meskipun bangunan masjid tidak terlalu besar, semangat pengurus dan jamaahnya diharapkan tetap besar.

“Maaf masjidnya kecil, tapi insyaAllah jiwa pengurusnya besar. Masjid ini penuh berkah,” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan bahwa Masjid Al Mujahidin juga memiliki hubungan dengan perjalanan sejarah dakwah ulama di Sulawesi Selatan. Di masjid tersebut, Angregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle disebut beberapa kali singgah dan berdiskusi dengan Puang Halide, ulama Bacukiki, sekitar tahun 1940 pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

H. Bakhtiar: Putihkan dan Rapatkan Shaf Bukan Sekadar Slogan

Sementara itu, H. Bakhtiar Syarifuddin, selaku Muassis Majelis Syuhada Parepare, kembali mengingatkan jamaah tentang makna gerakan “Putihkan & Rapatkan Shaf”.

Menurutnya, shaf yang lurus dan rapat bukan hanya bagian dari kesempurnaan pelaksanaan sholat, tetapi juga menjadi simbol kekompakan dan persatuan umat.

“Ini pengingat. Shaf yang rapat dan lurus itu tanda kekhusyukan dan kekompakan kita. Selain syiar, ini juga untuk mempererat silaturahmi ulama dengan masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menggaungkan tiga gerakan utama Majelis Syuhada yang terus didorong di tengah masyarakat.

Pertama, memakmurkan Subuh berjamaah. Selain mendapatkan keutamaan pahala, Subuh berjamaah juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan kepedulian sosial.

Kedua, memperbanyak Sedekah Subuh, sebagai salah satu bentuk menanam amal dan membangun kepedulian terhadap sesama.

Ketiga, menjaga silaturahmi, karena silaturahmi menjadi bagian penting dalam memperkuat persaudaraan serta diyakini membawa keberkahan dalam kehidupan.

Pada akhir sambutannya, H. Bakhtiar juga mengundang jamaah untuk menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Irsyad, Ujung Baru, pada malam harinya.

Sementara itu, Safari Subuh Majelis Syuhada pada pekan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Masjid Al-Barkah BTN Pondok Indah, Kecamatan Soreang.

Ceramah Subuh: Jangan Jadi Muslim Instan

Pesan spiritual kemudian dilanjutkan melalui ceramah Subuh yang disampaikan Ustadz Haeruddin, S.Pd.I., MA, dari Komad MTs Al Badar Bilalang.

Mengangkat pesan tentang pentingnya proses dalam memahami agama, Ustadz Haeruddin menyampaikan tema “Jangan Jadi Muslim Instan”.

Ia mengibaratkan belajar agama seperti membuat mie instan. Meskipun namanya instan, mie tersebut tetap harus dimasak terlebih dahulu sebelum bisa dinikmati.

“Ilmu agama juga begitu. Jangan jadi ‘Ustadz Google’ yang asal comot ayat dari HP tanpa guru. Ilmu butuh adab, sanad, dan bimbingan,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi, khususnya telepon genggam, harus dimanfaatkan secara bijak. HP dapat menjadi sarana menuju kebaikan apabila digunakan untuk mengaji, bershalawat dan bersedekah. Namun sebaliknya, teknologi juga dapat menjadi jalan menuju kemaksiatan apabila digunakan untuk ghibah dan perbuatan yang dilarang agama.

“Nabi bersabda: Surga dikelilingi hal yang berat bagi nafsu,” jelasnya.

Lima Kunci Meraih Keberkahan

Dalam ceramahnya, Ustadz Haeruddin kemudian menyampaikan lima kunci yang perlu diperhatikan umat untuk meraih keberkahan dalam kehidupan.

Pertama, belajar dengan guru dan tidak mengambil ilmu secara instan. Menurutnya, ilmu agama membutuhkan proses, adab, sanad dan bimbingan.

Kedua, menggunakan HP untuk ibadah, bukan maksiat. Teknologi harus diarahkan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ketiga, memakmurkan Subuh. Salah satunya dengan membiasakan diri hadir berjamaah dan ikut menghidupkan gerakan “Putihkan & Rapatkan Shaf”.

Keempat, saling menasihati dan memperbanyak shalawat. Nasihat dalam kebaikan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, yakin terhadap janji Allah SWT sebagaimana dalam QS. Saba ayat 39. Apa yang diberikan di jalan kebaikan diyakini akan mendapatkan balasan dan keberkahan dari Allah SWT.

Dalam bagian akhir ceramahnya, Ustadz Haeruddin juga mengangkat kisah-kisah yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, termasuk kisah api Majusi yang padam dan tanah yang sebelumnya gersang menjadi subur.

Ia bahkan menyebut kisah yang berkembang di Sulawesi Selatan mengenai “pisang berbuah telur” saat peringatan Maulid Nabi sebagai salah satu cerita yang menggambarkan kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW.

Ditutup Doa dan Jabat Tangan

Rangkaian Safari Sholat Subuh Berjamaah kemudian ditutup dengan doa bersama.

Suasana semakin hangat ketika para jamaah saling berjabat tangan dan bersilaturahmi sebelum meninggalkan masjid.

Safari Subuh Majelis Syuhada di Masjid Al Mujahidin kali ini menjadi momentum yang mempertemukan sejarah, spiritualitas, ukhuwah, dan semangat memakmurkan masjid.

Di tengah suasana Subuh yang khidmat, ratusan jamaah kembali menunjukkan bahwa gerakan “Putihkan & Rapatkan Shaf” bukan sekadar slogan, melainkan ikhtiar untuk menghidupkan masjid sekaligus mempererat persaudaraan umat.

Sampai jumpa di Safari Subuh berikutnya, di Masjid Al-Barkah BTN Pondok Indah, Soreang.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *