Ratusan jamaah padati Masjid Agung Al-Munawir: Safari Subuh Majelis Syuhada Parepare gelorakan gerakan “Putihkan dan Rapatkan Shaf” di Pinrang
DentumNusantara.com, PINRANG – Subuh itu, Masjid Agung Al-Munawir Pinrang benar-benar putih. Sekitar 700 jamaah tumpah ruah memadati masjid kebanggaan Bumi Lasinrang yang berlokasi di Jl. Bintang No. 1, Macorawalie, Kecamatan Watang Sawitto.
Mereka datang dari dua daerah bertetangga, Pinrang dan Parepare, dalam satu ikatan cinta dan semangat memakmurkan masjid melalui Safari Shalat Subuh Berjamaah yang digagas Majelis Syuhada Parepare bersama jamaah Masjid Agung Al-Munawir Pinrang.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat Subuh, 2 Oktober 2026, mulai pukul 04.00 WITA tersebut mengusung tema besar yang menggugah semangat umat, yakni “Putihkan & Rapatkan Shaf”.
Sejak dini hari, jamaah mulai berdatangan. Putihnya pakaian para jamaah menjadi pemandangan yang menonjol di dalam dan sekitar masjid. Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari gerakan Majelis Syuhada Parepare untuk menghidupkan suasana Subuh berjamaah agar semaraknya tidak kalah dengan pelaksanaan Shalat Jumat.
Shalat Subuh Diimami Ustadz H. Munta, Diiringi Doa untuk Pendiri Masjid
Tepat pukul 04.30 WITA, pelaksanaan Shalat Subuh berjamaah dimulai. Yang bertindak sebagai imam Shalat Subuh adalah Ustadz H. Munta, Imam Besar Masjid Agung Al-Munawir Pinrang.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdu dan khusyuk mengalun di dalam masjid, mengiringi sekitar 700-an jamaah yang telah memadati ruang utama masjid.
Para jamaah tampak merapatkan shaf. Barisan demi barisan terbentuk dengan penuh kekhusyukan, sementara sebagian jamaah lainnya memenuhi bagian belakang masjid hingga area yang tersedia.
Sebelum pelaksanaan shalat, suasana haru sempat menyelimuti jamaah. Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) Masjid Agung Al-Munawir Pinrang, Ustadz H. A. Abd. Rahman Usman, naik ke mimbar untuk memberikan sambutan pembuka.
Namun sebelum menyampaikan sambutan, beliau mengajak seluruh jamaah membaca Surah Al-Fatihah yang pahalanya diniatkan untuk Almarhum H. Andi Nawir, mantan Bupati Pinrang yang dikenal sebagai pendiri Masjid Agung Al-Munawir.
“Sebelum sambutan, mohon dibantu baca Surah Al-Fatihah yang pahalanya kita tujukan buat Almarhum H. Andi Nawir, mantan Bupati Pinrang yang mendirikan masjid agung ini,” ucapnya dengan suara bergetar.
Serentak, sekitar 700 lisan melantunkan Surah Al-Fatihah. Doa dan penghormatan pun dipanjatkan untuk almarhum pendiri masjid yang menjadi tempat berkumpulnya umat dalam Safari Subuh tersebut.
Ustadz H. Abd. Rahman Usman kemudian menyapa para tokoh yang hadir, di antaranya Dewan Syuro Majelis Syuhada, Muassis Majelis Syuhada Parepare beserta rombongan, Bapak Muhabbar, H. Muthalib, Imam Besar Masjid Agung Al-Munawir, Dr. H. Munta, Gurutta H. Abd. Wahab, Lc., serta para orang tua dan ulama yang hadir.
Dengan nada bahagia bercampur canda, ia mengungkapkan bahwa kedatangan rombongan Majelis Syuhada Parepare menjadi momentum istimewa.
“Terus terang, 4 tahun saya sebagai Ketua BPH, baru 2 kali berdiri di mimbar ini. Karena kedatangan rombongan Majelis Syuhada Parepare ini sangat istimewa,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sedianya Bupati Pinrang akan hadir membersamai kegiatan tersebut. Namun karena ada tugas lain, Bupati menitipkan salam hormat kepada seluruh jamaah.
“Beliau titip salam hormat buat seluruh jamaah dan berpesan: layani dengan baik tamu kita para pejuang Subuh, beri kesenangan tamu kita. Semoga kedatangan dan kepulangannya dalam keadaan gembira dan bahagia,” tuturnya.
Kajian Inti: Makanan Halal Cahaya Kehidupan, Makanan Haram Perusak Amal
Puncak rangkaian Safari Subuh dilanjutkan dengan kajian yang disampaikan oleh Ustadz H. Abdullah Wahab, Lc., M.Pd.I, Pimpinan Pondok Kajian Kitab Kuning Al-Azhar Al-Syarif Kabupaten Pinrang.
Mengawali kajiannya dengan salam dan shalawat, Ustadz Abdullah Wahab mengupas hadits tentang gambaran kenikmatan surga, khususnya bagi orang-orang yang memiliki kebiasaan berkata baik, memberi makan, berpuasa dan melaksanakan Shalat Tahajud ketika manusia lainnya sedang tidur.
Dari hadits tersebut, kajian kemudian diarahkan kepada persoalan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yakni halal dan haram, khususnya makanan dan sumber rezeki yang dikonsumsi.
Ustadz Wahab menjelaskan hadits shahih:
“Inna Allaha Ta’ala Thayyibun la yaqbalu illa thayyiban.”
Artinya, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
“Allah menyuruh orang-orang beriman sebagaimana Allah menyuruh para Rasul,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT:
“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh.”
(QS. Al-Mu’minun: 51)
Kemudian:
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 172)
Menurut Ustadz Wahab, makanan yang dikonsumsi seseorang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan, hati dan ibadahnya.
“Kenapa Allah katakan demikian? Karena kalau makanan halal dimakan maka akan memotivasi segala kehidupan kita. Darah jadi bersih, hati bercahaya, ibadah ringan. Kalau makanan haram dimakan, maka merusak semua amal kita,” jelasnya.
Ia juga mengisahkan hadits tentang seorang musafir yang berdoa kepada Allah, namun doanya terhalang karena makanan, minuman, pakaian dan sumber kehidupannya berasal dari sesuatu yang haram.
“Ada seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya awut-awutan tidak tertata, dia berdoa ke langit, Ya Rabbi, Ya Rabbi… padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim)
“Orang yang selalu makan dan minum yang haram, maka segala kebaikannya akan sia-sia. Doanya sampai kepada Allah, tapi tidak diterima. Makanya, Allah mau tidak mau akan menerima doa kita, tetapi niat dan halnya harus baik,” tambahnya.
Ustadz Wahab menegaskan bahwa makanan yang dikonsumsi seorang Muslim harus halal sekaligus thayyib, yakni baik, bersih dan bermanfaat.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, melainkan memperbaiki diri sendiri dan membuktikan keimanan melalui kehidupan sehari-hari.
“Tidak usah cari kesalahan orang lain, cukup perbaiki hidup Anda, buktikan keimanan. Tolong perhatikan makanan, jangan sampai makan makanan haram. Kalau makan makanan haram, maka semua berkah hilang dan Allah tidak menerima segala amal ibadahnya, walaupun shalatnya sah namun tidak diterima Allah. Bahayanya sangat banyak,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar menjauhi praktik penipuan dan mengambil hak orang lain.
“Jangan menipu, karena yang Anda tipu itu sebenarnya Allah, karena Allah Maha Melihat khianatnya mata,” katanya.
“Bila makan makanan halal maka hati kita selalu bercahaya,” tambahnya.
Sesi Tanya Jawab Interaktif Menghidupkan Kajian
Kajian Subuh tersebut berlangsung interaktif. Sejumlah jamaah memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada penceramah.
Jamaah bernama Mancha dari Parepare bertanya mengenai makanan haram yang boleh dikonsumsi dalam kondisi darurat.
Ustadz Wahab menjawab dengan menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi kondisi darurat.
“Jangan selalu mendaruratkan masalah makanan. Bila makanan yang dihidangkan itu dianggap haram maka jangan dimakan walaupun itu darurat, silakan ditahan nafsu makannya. Makanan haram tetap haram dan makanan halal tetap halal, selama masih bisa ditahan maka tahanlah walaupun itu darurat,” jawabnya.
Pertanyaan berikutnya datang dari Yasser asal Pinrang yang bertanya bagaimana sikap seorang Muslim apabila tidak mengetahui secara pasti proses makanan yang dikonsumsinya serta bagaimana cara menjaga keistiqamahan.
Ustadz Wahab menjelaskan pentingnya membangun sikap husnuzan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
“Kita selalu berprasangka positif (husnuzan). Orang yang bertaubat dari dosanya itu baik. Bila mengambil hak orang maka kita kembalikan hak orang tersebut, baru kita bisa istiqamah,” jelasnya.
Muassis Majelis Syuhada Tutup Safari Subuh dengan Canda dan Haru
Sambutan penutup disampaikan oleh Muassis Majelis Syuhada Parepare, H. Bakhtiar Syarifuddin, SE.
Ia menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bupati Pinrang, pengurus Masjid Agung Al-Munawir, majelis taklim serta seluruh masyarakat Pinrang yang telah menerima rombongan Majelis Syuhada Parepare dengan penuh kehangatan.
“Terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Bupati dan pengurus masjid, majelis taklim dan masyarakat Pinrang atas sambutan hangatnya,” ucap H. Bakhtiar.
Ia menjelaskan bahwa Majelis Syuhada Parepare merupakan gerakan yang berupaya memakmurkan masjid melalui Safari Subuh dari masjid ke masjid.
“Majelis Syuhada Parepare itu adalah sebuah gerakan memakmurkan masjid, dan sudah 2 tahun lebih kita berkunjung dari masjid ke masjid,” katanya.
Namun, ia kemudian melontarkan candaan mengenai luasnya Masjid Agung Al-Munawir Pinrang.
“Namun Masjid Agung Al-Munawir ini sangat luas, berkapasitas ribuan, sehingga walaupun kita ratusan yang hadir tetap terasa kosong,” selorohnya yang langsung disambut tawa dan senyum sekitar 700 jamaah.
H. Bakhtiar kemudian mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga istiqamah dalam memakmurkan masjid.
“Terima kasih atas penerimaan jamaah, dan berharap tetap istiqamah dalam shalat berjamaah, sedekah Subuh dan silaturrahim. Semoga segala yang kita kerjakan Subuh ini tetap berkah,” pesannya.
Ia juga menyampaikan agenda Safari Subuh berikutnya.
“Selanjutnya Jumat Subuh depan kita bertemu lagi di Masjid Kampus IAIN Parepare. Selanjutnya mari kita bersilaturrahim, setelah pulang dengan hati-hati di jalan,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, sesi foto dan sarapan bersama. Suasana penuh keakraban tampak antara jamaah Majelis Syuhada Parepare dan jamaah Masjid Agung Al-Munawir Pinrang.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi momentum ibadah bersama, tetapi juga mempererat ukhuwah dan silaturrahim antara masyarakat Parepare dan Pinrang.
Muassis Majelis Syuhada Parepare, H. Bakhtiar Syarifuddin, SE, menegaskan bahwa gerakan “Putihkan & Rapatkan Shaf” bukan sekadar ajakan untuk melaksanakan Shalat Subuh berjamaah.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengembalikan kejayaan Subuh di masjid, sehingga suasana masjid pada waktu Subuh dapat semarak dan dipenuhi jamaah sebagaimana ramainya masjid ketika pelaksanaan Shalat Jumat.
Safari Subuh di Masjid Agung Al-Munawir Pinrang pun menjadi salah satu gambaran nyata semangat tersebut: ratusan jamaah hadir sejak dini hari, memenuhi masjid, merapatkan shaf, bersilaturrahim dan bersama sama menghidupkan Subuh dengan ibadah. (DediDSAS/ASP)
















