Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Pesan Menyentuh Abustan di DDI Mangkoso: Warisan Terbaik Orang Tua Bukan Harta, Melainkan Ilmu dan Akhlak

147
×

Pesan Menyentuh Abustan di DDI Mangkoso: Warisan Terbaik Orang Tua Bukan Harta, Melainkan Ilmu dan Akhlak

Sebarkan artikel ini

Dentumnusantara.comBARRU – Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai Haflah Qiraatil Kutub Madrasah I’dadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso yang digelar di Kampus III Putri Bulu Lampang, Kecamatan Soppeng Riaja, Sabtu (27/6/2026). Momentum ini bukan sekadar seremoni penamatan, tetapi menjadi bukti keberhasilan pesantren dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Barru, Abustan A. Bintang, yang menyampaikan apresiasi kepada para orang tua santri atas kepercayaan mereka menitipkan pendidikan anak-anak di lingkungan pesantren. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan investasi jangka panjang yang akan membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

“Menjadi orang tua santri itu tidak mudah. Karena itu saya menyampaikan penghormatan kepada bapak dan ibu sekalian. Jangan pernah takut berkorban untuk pendidikan anak, sebab warisan terbaik yang bisa diberikan bukanlah harta, melainkan ilmu dan akhlak,” ujar Abustan.

Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari tingginya jenjang akademik, tetapi harus diiringi dengan pembentukan adab. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pendidikan karakter menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi yang bermanfaat.

“Setinggi apa pun ilmu seseorang, jika tidak memiliki adab, ilmunya tidak akan membawa manfaat. Saya bersyukur DDI Mangkoso tetap konsisten menjaga tradisi pendidikan yang mengutamakan akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sebagai bentuk apresiasi atas semangat belajar para santri, Abustan bahkan meminta panitia memberikan hadiah kepada peserta yang telah mengikuti ujian Haflah Qiraatil Kutub.

Menurutnya, penghargaan sekecil apa pun akan menjadi penyemangat bagi santri untuk terus meningkatkan kemampuan mereka.
Kekaguman terhadap kualitas pendidikan DDI Mangkoso juga membuat Abustan berharap keluarganya kelak menjadi bagian dari pesantren yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat tersebut.

“Saya sudah menyampaikan kepada keluarga agar nanti ada keponakan atau cucu kami yang menjadi alumni DDI Mangkoso,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati juga memberikan apresiasi atas prestasi literasi para santri yang berhasil menerbitkan buku “Di Negeri Para Perindu Ilmu” di bawah pendampingan penulis nasional Dr. Bahtiar Adnan Kusuma. Menurutnya, kemampuan menulis merupakan pencapaian yang patut dibanggakan karena tidak semua orang mampu menuangkan gagasan dalam sebuah karya.

“Saya sendiri ingin belajar menulis dari para akademisi, termasuk Dr. Bahtiar Adnan Kusuma. Menulis adalah warisan ilmu yang akan terus hidup,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Abustan mengajak masyarakat untuk terus memperkenalkan DDI Mangkoso sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbaik yang dimiliki Kabupaten Barru.

“Kalau ingin melihat lahirnya ulama-ulama besar, datanglah ke DDI Mangkoso. Mari kita bersama-sama mengenalkan pesantren ini agar semakin banyak generasi yang tumbuh dengan bekal ilmu agama dan akhlak yang kuat,” ajaknya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barru, H. Irman, menyebut Haflah Qiraatil Kutub sebagai wujud nyata keberhasilan sistem pendidikan pesantren dalam melahirkan santri yang mampu membaca dan memahami kitab kuning sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

Sementara itu, Kepala Madrasah I’dadiyah DDI Mangkoso, Prof. (HC) Dr. Muhammad Agus, M.Th.I., menjelaskan bahwa haflah merupakan bentuk pertanggungjawaban lembaga kepada orang tua atas perkembangan pendidikan santri selama kurang lebih sepuluh bulan.

Ia mengungkapkan, para santri yang sebelumnya datang dengan kemampuan beragam kini telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, menghafal Juz 30, Matan Al-Ajurrumiyah, menguasai ilmu sharaf, hingga membaca kitab kuning tanpa harakat.

Tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, para santri tahun ini juga berhasil melahirkan karya literasi berupa buku “Di Negeri Para Perindu Ilmu” yang berisi kisah perjalanan mereka selama menuntut ilmu di DDI Mangkoso.

Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso, jajaran Pengurus Besar DDI, tokoh pendidikan, ulama, unsur pemerintah daerah, aparat TNI-Polri, para kepala sekolah, guru, serta ratusan orang tua santri yang turut menyaksikan capaian putra-putri mereka.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *