Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Mappalili di Cilellang Bukan Sekadar Tradisi, Bupati Andi Ina Titip Pesan untuk Petani: Jangan Lawan Iklim

78
×

Mappalili di Cilellang Bukan Sekadar Tradisi, Bupati Andi Ina Titip Pesan untuk Petani: Jangan Lawan Iklim

Sebarkan artikel ini

dentumnusantara.comBARRU, SULSEL — Hamparan sawah di Dusun Cilellang Selatan, Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi, menjadi saksi kembali hidupnya tradisi Mappalili. Pemerintah Desa Cilellang menggelar ritual adat tersebut sebagai penanda dimulainya musim tanam 2026/2027, Rabu (7/10/2026).

Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., hadir langsung dalam tradisi yang sarat makna tersebut. Bagi masyarakat Bugis, Mappalili bukan sekadar seremoni sebelum turun sawah, tetapi juga menjadi momentum memanjatkan doa agar hujan segera turun, tanaman terhindar dari hama dan penyakit, serta hasil panen melimpah.

Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru, Camat Mallusetasi, Kapolsek Mallusetasi, Danramil Mallusetasi, Kepala Desa Cilellang Perawati, para penyuluh pertanian, kelompok tani, kepala dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Barru.

Kepala Desa Cilellang Perawati menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bupati Barru. Ia menyebut kehadiran Andi Ina tahun ini merupakan kali kedua Bupati menghadiri Mappalili di Desa Cilellang.

“Selamat datang kepada Ibu Bupati beserta rombongan di Desa Cilellang. Tahun lalu Ibu Bupati juga hadir di acara Mappalili di Dusun Cilellang Utara, tahun ini di Cilellang Selatan,” ujarnya.

Menurut Perawati, lokasi Mappalili tahun ini merupakan tempat yang secara turun-temurun dianggap sakral oleh masyarakat. Di tempat tersebut, ritual sebelum petani turun mengolah sawah terus diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kita melaksanakan Mappalili atau turun sawah dengan harapan semoga nantinya bisa turun hujan, kita bisa bertani dan mendapatkan hasil yang melimpah dan dibebaskan dari hama,” katanya.

Namun di balik tradisi tersebut, para petani masih menghadapi persoalan infrastruktur. Perawati menyampaikan aspirasi kelompok tani terkait kondisi jalan tani yang menjadi akses penting dalam mengangkut hasil pertanian.

“Harapan kami mewakili para kelompok tani, mudah-mudahan jalan tani yang kita lewati tadi bisa diperhatikan. Alhamdulillah ada kabar baik katanya sudah bisa dikerjakan tahun ini,” ungkapnya.

Ia menyebut keterbatasan Dana Desa membuat pembangunan infrastruktur pertanian membutuhkan dukungan dari pemerintah kabupaten.

Petani Diminta Jangan Melawan Iklim
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru Ahmad mengapresiasi Desa Cilellang yang dinilai responsif dalam menjaga tradisi pertanian sekaligus mempersiapkan petani menghadapi musim tanam.

“Desa Cilellang ini sangat responsif terhadap yang namanya turun sawah. Turun sawah itu adalah bagian dari kebahagiaan dan kesiapan untuk menyongsong pola tanam,” ujarnya.

Ia mengingatkan petani agar tidak memaksakan pola tanam tanpa memperhatikan kondisi iklim. Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Barru, diprediksi memasuki periode hujan pada minggu ketiga November 2026.

“Prinsipnya wajib seluruh kelompok tani di Kabupaten Barru mengikuti iklim, jangan melawan iklim,” tegasnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, pihaknya mendorong tiga strategi, yakni mempercepat pola tanam, menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim, serta menggunakan varietas tanaman berumur pendek.
Dinas Pertanian juga mencatat capaian positif sektor pertanian Barru pada 2025.

Realisasi tanam mencapai sekitar 30.000 hektare dalam setahun, sementara harga gabah pada Musim Tanam II (MT2) berada pada kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

“Ini yang membuat Nilai Tukar Petani (NTP) kita naik. Petani bahagia karena produksi bagus dan harga tinggi,” katanya.

Andi Ina: Mappalili Adalah Doa
Di hadapan petani dan masyarakat Cilellang, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menegaskan bahwa Mappalili harus dimaknai lebih dalam. Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan simbolis dengan pejabat turun ke sawah.

“Mappalili ini bukan sekadar hanya turun dengan para pejabat mencangkul dan kemudian selesai. Tetapi Mappalili ini adalah doa. Kita memulai pekerjaan dengan Bismillah, kita memanjatkan doa semoga apa yang kita lakukan itu insya Allah akan memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya para petani,” ujar Andi Ina.

Bupati perempuan pertama di Barru itu juga mengingatkan agar Mappalili tetap dipertahankan sebagai warisan budaya leluhur.

“Ini harus terus kita jaga. Jangan sampai Mappalili ini hilang. Inilah kewajiban kita semua untuk terus menjaga budaya dari orang tua kita yang mengajarkan bahwa ada Allah di atas yang mengatur semuanya,” katanya.

Tak hanya berbicara soal tradisi, Andi Ina juga menitipkan pesan agar petani memperkuat kebersamaan dalam menentukan pola tanam maupun penggunaan bibit.

“Kalau kita kuat bersama, apapun masalah pertanian kita akan teratasi. Jangan kita jalan sendiri, jangan hanya mendengar orang di sana pakai bibit beda terus kita ikut. Belum tentu hasilnya sama karena kondisi lahan berbeda. Ikuti arahan penyuluh dan pemerintah,” tegasnya.

Ia juga meminta penyuluh pertanian tidak sekadar hadir dalam kegiatan formal, tetapi benar-benar menjadi pendamping petani di lapangan.

“Tugas penyuluh itu adalah pendampingnya petani. Harus tahu apa masalahnya petani dan harus tersampaikan kepada pimpinan agar ada solusinya. Jangan biarkan petani bermasalah dilihat saja,” ujarnya.

Berharap Hujan Turun Lebih Cepat
Di tengah kemarau panjang yang masih melanda, Andi Ina mengajak masyarakat untuk tidak berhenti berikhtiar sekaligus memperbanyak doa.

“Kita manusia bisa berencana, BMKG bisa membaca dengan alat, tetapi ada kuasa yang lebih besar yaitu Allah SWT. Saya yakin kalau kita perbanyak berdoa, insya Allah hujan bisa lebih cepat dari minggu ketiga November,” ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Barru, lanjut Andi Ina, juga berkomitmen memberikan dukungan kepada petani Desa Cilellang melalui pembangunan jalan tani, bantuan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta penguatan program Brigade Pangan.

“Insya Allah ada jalan tani nantinya yang akan dikeluarkan melalui Dinas Pertanian. Tapi saya berpesan, jalan tani ini tidak boleh memotong persawahan, tidak boleh mengurangi jumlah luasan lahan sawah yang ada,” katanya.

Andi Ina juga menekankan agar program cetak sawah baru dilakukan secara tepat sasaran. Ia meminta agar setiap lahan yang dipilih benar-benar layak untuk pertanian sehingga anggaran pemerintah tidak terbuang percuma.

“Saya tekankan kepada cetak sawah itu jangan hanya melihat program itu kita dapat dan kemudian langsung diambil. Harus tepat sasaran. Jangan sampai lahan yang dijadikan cetak sawah ternyata bukan lahan pertanian dan tidak bisa ditanam. Akhirnya anggaran terbuang,” tegasnya.
Menurutnya, setiap rupiah anggaran pemerintah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Satu rupiah anggaran itu sangat berarti untuk masyarakat. Lebih bagus tolak kalau memang tidak bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.

Mappalili di Cilellang pun menjadi lebih dari sekadar penanda dimulainya musim tanam. Ia menjadi ruang bertemunya tradisi, doa, harapan petani, sekaligus komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan pertanian Barru di tengah tantangan perubahan iklim.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *