dentumnusantara.comBARRU — Di tengah riuhnya penyambutan peserta Bhayangkara Off Road Seri V Tahun 2026 di kawasan wisata Lappa Laona, Kecamatan Tanete Riaja, Jumat (28/8/2026), perhatian Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari justru tertuju pada seorang warga yang tampak membutuhkan pertolongan.
Namanya Kursiah (61).
Warga Dusun Waruwue, Desa Harapan, tersebut tinggal seorang diri dan menjadi salah satu penerima bantuan sembako dalam rangkaian kegiatan Bhayangkara Off Road.
Di tengah udara dingin Lappa Laona, Kursiah terlihat kurang sehat.
Melihat kondisi tersebut, Andi Ina segera menghampiri dan menanyakan keadaannya.
Bupati kemudian meminta petugas agar membawa Kursiah ke posko kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
“Dibawa ke posko, diperiksa baik-baik ya,” ujar Andi Ina sembari memastikan petugas memberikan perhatian kepada warga tersebut.
Namun perhatian Bupati tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan. Melihat Kursiah yang harus menghadapi dinginnya udara pegunungan, Andi Ina kemudian memberikan sebuah sarung Bali.
Sarung tersebut langsung dikenakan Kursiah untuk menghangatkan tubuhnya.
Seketika wajah Kursiah tampak lebih ceria. Senyum merekah ketika dirinya menerima sarung sekaligus perhatian langsung dari Bupati Barru.
Andi Ina juga meminta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barru untuk memastikan pemeriksaan terhadap Kursiah dilakukan secara langsung di posko kesehatan.
Hasil pemeriksaan petugas menunjukkan Kursiah sedang mengalami demam. Pemeriksaan itu menjadi tindak lanjut atas kepedulian Bupati setelah melihat kondisi warga tersebut.
Momen sederhana itu berlangsung di tengah kemeriahan Bhayangkara Off Road Seri V Tahun 2026 yang diikuti peserta dari berbagai daerah. Namun, perhatian singkat kepada seorang warga justru menghadirkan cerita tersendiri.
Di balik sebuah agenda besar dan meriahnya kegiatan, ada masyarakat yang tetap membutuhkan perhatian dan kepedulian.
Bagi Nenek Kursiah, sarung Bali yang diterimanya mungkin hanyalah selembar kain.
Namun di tengah dinginnya Lappa Laona, sarung itu menjadi lebih dari sekadar pemberian.
Ia menjadi simbol kehangatan—bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga dari sebuah perhatian yang tulus.
















