DentumNusantara.com.Barru, Sulawesi Selatan – Upaya percepatan tanam yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Barru mulai menunjukkan hasil nyata. Hingga 24 Maret 2026, realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) telah mencapai 80,23 persen dari target bulanan, menempatkan daerah ini di zona kuning dan membuka peluang besar menembus zona hijau sebelum akhir bulan.
Gerakan tanam padi yang dipusatkan di Kelompok Tani Mangusahae, Desa Kamiri, Kecamatan Balusu, menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan petani. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian RI, M. Amin, yang memberikan apresiasi atas capaian Barru.
“Ini menunjukkan sinergi yang berjalan efektif. Daerah mampu bergerak cepat dalam menjaga produktivitas pertanian,” ujarnya di sela kegiatan.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Barru menjelaskan, dari target tanam sekitar 200 hektare, realisasi telah mencapai 164 hektare. Capaian ini dinilai cukup progresif, mengingat tantangan musim yang mulai bergeser.
Dorongan percepatan tanam menjadi langkah strategis menyusul prediksi BMKG yang menyebut wilayah pantai barat Sulawesi Selatan, termasuk Barru, akan memasuki musim kemarau lebih awal pada April dengan durasi yang lebih panjang.
Di sisi lain, kabar baik juga datang dari masa panen. Pada musim tanam 2025/2026, Barru telah memasuki fase panen seluas sekitar 2.140 hektare dari total realisasi tanam 16.042 hektare.
Harga gabah di tingkat petani pun terpantau menguat di kisaran Rp6.700–Rp6.800 per kilogram, melampaui harga acuan pemerintah.
Penggunaan alat dan mesin pertanian modern, seperti combine harvester, turut mempercepat proses panen sehingga lebih efisien dan mengurangi potensi kehilangan hasil.
Pemerintah daerah juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, atas dukungan program dan bantuan yang telah mendorong peningkatan kinerja sektor pertanian di Barru.
Dengan capaian yang terus meningkat dan dukungan lintas sektor yang solid, Barru kini berada di jalur optimistis untuk menutup Maret 2026 di zona hijau—sebuah indikator penting keberhasilan realisasi tanam nasional sekaligus penguat ketahanan pangan daerah (*).
















