Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
BarruReligiUncategorized

Dari Mimbar Idulfitri, Bupati Barru Serukan Persatuan dan Pembangunan Berbasis Nilai Ramadan

78
×

Dari Mimbar Idulfitri, Bupati Barru Serukan Persatuan dan Pembangunan Berbasis Nilai Ramadan

Sebarkan artikel ini

DENTUMNUSANTARA.COM, Barru — Momentum Idulfitri 1447 Hijriah dimaknai sebagai ajang refleksi diri dan penguatan kebersamaan oleh Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya sebelum pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Agung Nurul Iman, Kabupaten Barru, Sabtu (21/3/2026).
Di hadapan ribuan jamaah, Bupati mengajak masyarakat untuk tidak sekadar merayakan hari kemenangan secara seremonial, tetapi menjadikannya sebagai titik balik dalam memperbaiki kualitas diri dan hubungan sosial.

“Ramadan telah melatih kita menahan diri, peduli terhadap sesama, serta menjunjung kejujuran dan amanah. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai itu masih kita jaga setelah Ramadan berlalu,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Idulfitri seharusnya menjadi momentum memperkuat nilai-nilai luhur, baik secara spiritual maupun sosial. Dalam konteks lokal, nilai tersebut tercermin dalam falsafah Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge yang selama ini menjadi pedoman hidup masyarakat Barru.

Menurutnya, semangat saling menghargai dan mengingatkan harus terus dijaga guna menciptakan kehidupan yang harmonis. Ia pun mengajak masyarakat untuk melebur perbedaan, menghapus konflik, serta mempererat jalinan persaudaraan.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa esensi Idulfitri tidak terletak pada simbol lahiriah semata, melainkan pada peningkatan keimanan dan ketakwaan.

“Idulfitri adalah penyejuk hati, pelunak jiwa, sekaligus pembuka mata hati kita,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi Kabupaten Barru, mulai dari dinamika ekonomi global hingga persoalan sosial di daerah. Meski demikian, ia optimistis seluruh tantangan dapat diatasi melalui semangat kebersamaan.

“Dengan semangat Yassiberrui dan sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat, tidak ada rintangan yang tidak bisa kita lalui,” tegasnya.
Memasuki tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Barru, lanjutnya, akan memfokuskan pembangunan yang merata hingga ke pelosok desa. Sejumlah sektor prioritas meliputi peningkatan kesejahteraan petani, pembenahan infrastruktur, serta penguatan layanan dasar.

Di bidang pendidikan, Bupati memastikan komitmen pemerintah untuk menghadirkan akses pendidikan yang merata, khususnya bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

“Pendidikan adalah hak semua anak. Tidak boleh ada yang tertinggal, termasuk melalui program sekolah gratis,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan spiritual.

Menurutnya, nilai-nilai keimanan harus menjadi fondasi dalam setiap proses pembangunan.
Selain itu, Bupati turut menyampaikan pesan kepada para perantau yang pulang kampung agar menjadikan momen Idulfitri sebagai sarana mempererat hubungan keluarga sekaligus memberi inspirasi bagi generasi muda di daerah.

“Barru akan selalu menjadi rumah yang terbuka bagi kita semua,” tuturnya.
Mengakhiri sambutannya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk saling memaafkan, memperkuat silaturahmi, serta menjaga persatuan. Ia juga mengimbau agar fasilitas publik, termasuk videotron yang baru diresmikan, dapat dijaga bersama sebagai aset daerah.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Barru, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barru, Irman, dalam khotbah Idulfitri menegaskan pentingnya menjadikan Idulfitri sebagai momentum menurunkan ego dan menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Ia mengingatkan bahwa kalimat takbir “Allahu Akbar” mengandung makna mendalam agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan, termasuk atas capaian ibadah selama Ramadan.

“Yang Maha Besar hanyalah Allah. Dari situlah kita belajar bahwa segala persoalan hidup menjadi kecil di hadapan kebesaran-Nya,” pesannya.

Dalam khotbahnya, ia juga menyoroti pentingnya profesionalisme dan keadilan dalam menjalankan amanah, termasuk dalam tata kelola pemerintahan. Selain itu, ia mendorong optimalisasi peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat, termasuk melalui pengembangan sektor ekonomi seperti UMKM.

Ia menutup khotbah dengan mengajak masyarakat menjadikan bulan Syawal sebagai kelanjutan dari semangat Ramadandengan menjaga disiplin, kepedulian, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *