MAGELANG, DENTUMNUSANTARA.COM — Perjalanan melawan kanker tidak berhenti setelah pengobatan medis selesai. Bagi para penyintas kanker anak, fase pascapengobatan menjadi momentum untuk kembali membangun kepercayaan diri, mengembangkan potensi, memperluas pergaulan, dan menjalani kehidupan secara lebih bermakna.
Semangat tersebut menjadi landasan InJourney Community Care Indonesian Childhood Cancer Survivors Camp 2026 bertema “Beyond Survival” yang digelar 17–18 September 2026 di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Kegiatan tahunan yang digagas Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) ini berkolaborasi dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) atau InJourney Destination Management (IDM).
Sebanyak 57 penyintas kanker anak yang tergabung dalam Cancer Buster Community (CBC) di bawah naungan YOAI mengikuti kegiatan tersebut.
Survivors Camp 2026 menjadi ruang edukasi, pengembangan diri, serta pembinaan mental dan sosial bagi para penyintas kanker anak. Para peserta dari berbagai daerah di Indonesia juga mendapat kesempatan membangun persahabatan, memperluas jejaring, bertukar pengalaman dan budaya, serta saling memberikan dukungan.
Direktur Utama PT Taman Wisata Borobudur, Mardijono Nugroho, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman baru yang bermakna bagi para penyintas.
«“Kami ingin mendukung perjalanan para penyintas dengan menghadirkan pengalaman baru yang bermakna di kawasan Candi Borobudur. Bagi kami, semangat mereka untuk terus melangkah, melewati berbagai tantangan, dan tidak berhenti untuk berkembang merupakan sesuatu yang sangat menginspirasi,” ujar Mardijono saat membuka kegiatan di Manohara Borobudur Cultural Center, Jumat (18/9/2026).»
Menurutnya, semangat para penyintas untuk tetap berdaya dan menjalani kehidupan dengan optimisme menjadi bagian penting dari pengalaman kegiatan tersebut.
Belajar Budaya di Borobudur
Ketua Cancer Buster Community, Saprita Tahir, mengatakan kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berkumpul bagi para penyintas, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengenal budaya di kawasan Borobudur secara lebih dekat.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh peserta selama kegiatan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saprita juga mengungkapkan pengalaman positif peserta saat mengikuti kegiatan serupa di Borobudur pada tahun sebelumnya.
«“Tahun lalu kita sudah mengadakan acara Cancer Survivors Camp ini di Borobudur dan pengalaman kita menyenangkan banget. Suasana di sini tenang, makanannya enak, dan orang-orangnya juga friendly. Kita merasa disambut dengan baik,” katanya.»
Dalam rangkaian kegiatan, peserta diajak mengenal kekayaan warisan budaya di kawasan Borobudur melalui berbagai aktivitas.
Di Museum dan Kampung Seni Borobudur, peserta mendapatkan pengalaman langsung membuat batik dan gerabah. Didampingi pelaku seni lokal, mereka mencoba membuat motif batik sekaligus mengolah tanah liat menjadi kerajinan gerabah.
Aktivitas tersebut menjadi sarana pembelajaran budaya secara interaktif sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi kreativitas.
Peserta juga mengunjungi Museum Borobudur untuk mengenal lebih jauh sejarah Borobudur serta pengetahuan yang melekat pada kawasan cagar budaya tersebut.
Tidak sekadar melihat koleksi, peserta diajak memahami perjalanan panjang Borobudur sebagai bagian dari sejarah peradaban dan kebudayaan yang terus diwariskan.
Mardijono menilai pengalaman tersebut membuat kunjungan ke Borobudur memiliki nilai lebih dari sekadar perjalanan wisata.
«“Kunjungan ke kawasan Borobudur menjadi lebih dari sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah pengalaman belajar yang mempertemukan manusia, budaya, dan ruang warisan dalam suasana yang lebih dekat dan bermakna,” jelasnya.»
Bangun Semangat dan Kepercayaan Diri
Salah satu peserta, Faris Fadhli Domili, mengaku tertarik mengikuti kegiatan membatik dan membuat gerabah karena dirinya memiliki ketertarikan terhadap bidang seni.
Bagi penyintas kanker tulang atau osteosarcoma tersebut, kegiatan bersama para penyintas lainnya juga memberikan dukungan yang dapat membantu membangun semangat dan kepercayaan diri.
«“Ini sangat bermanfaat untuk survivor karena salah satunya menjadi support system untuk menumbuhkan semangat dan percaya diri. Pengetahuan baru juga kita dapatkan di sini. Karena banyak teman yang mendukung, sedikit banyak itu memperbaiki arah hidup kita ke depannya,” ujar Faris.»
Sementara itu, Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia, Rahmi Adi Putra Tahir, mengatakan Cancer Buster Community merupakan wadah bagi penyintas kanker anak dari berbagai daerah di Indonesia.
Komunitas tersebut mendorong para anggotanya untuk terus belajar, berkembang, menemukan potensi diri, serta menjalani kehidupan yang bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain.
Menurut Rahmi, Child Cancer Survivors Camp 2026 merupakan salah satu program unggulan YOAI yang menjadi bagian dari Recovery Program.
Program tersebut dirancang untuk membantu penyintas kanker anak melewati fase kehidupan setelah pengobatan dengan membangun kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi.
«“Program yang terstruktur untuk Child Cancer Survivors dikombinasi dengan psychosocial support, health education, survivorship knowledge, monitoring dan community engagement,” jelas Rahmi.»
Melalui program tersebut, peserta mendapatkan dukungan psikososial melalui kegiatan edukasi dan pengembangan diri. Mereka juga memiliki kesempatan memperoleh pengetahuan baru, berinteraksi dengan sesama penyintas, serta membangun kembali kepercayaan diri dalam kehidupan sosial.
Bagi InJourney Destination Management, keterlibatan kawasan Candi Borobudur dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa destinasi warisan budaya juga dapat menjadi ruang yang inklusif untuk menghadirkan pengalaman belajar, interaksi sosial, dan nilai kemanusiaan.
Kolaborasi IDM dan YOAI melalui Indonesian Childhood Cancer Survivors Camp 2026 diharapkan dapat memberikan pengalaman bermakna sekaligus mendukung kualitas hidup para penyintas kanker anak melalui perpaduan edukasi, dukungan sosial, pengembangan diri, dan pengalaman budaya.(*)


















