Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Dosen UMI Kaji Orientasi Kewirausahaan Pelaku Usaha Ikan Kering di Barru

84
×

Dosen UMI Kaji Orientasi Kewirausahaan Pelaku Usaha Ikan Kering di Barru

Sebarkan artikel ini

DentumNusantara.com, BARRU – Pelaku usaha ikan kering di Dusun Labuange, Desa Kupa, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, mendapat kunjungan dari dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) dalam rangka kajian lapangan, Minggu (28/6/2026).

Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung aktivitas kewirausahaan masyarakat pesisir yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian lokal.

Dusun Labuange dikenal sebagai salah satu sentra produksi ikan kering di Kabupaten Barru. Sejak pagi, para pelaku usaha menyambut kedatangan tim dosen UMI di lokasi pengolahan. Mereka memperlihatkan proses produksi mulai dari penjemuran, pemilihan bahan baku, hingga pengemasan yang menjadi ciri khas produk ikan kering Labuange.

Produk ikan kering dari desa tersebut tidak hanya dipasarkan di Barru, tetapi juga telah dipasarkan ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Salah satu dosen UMI, Kasnaeny Karim, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana pelaku usaha memiliki orientasi kewirausahaan serta melakukan inovasi dalam mengembangkan usahanya.

“Tujuan kami datang ke sini adalah untuk mengetahui apakah para wirausahawan memiliki orientasi kewirausahaan dan melakukan inovasi dalam menjalankan usahanya demi keberlanjutan usaha,” ujarnya.

Menurut Kasnaeny, orientasi kewirausahaan mencakup keberanian mengambil risiko, kemampuan berinovasi, sikap proaktif dalam melihat peluang, serta kemandirian dalam mengelola usaha.

Sementara itu, inovasi dinilai menjadi faktor penting agar produk ikan kering tetap mampu bersaing di tengah perkembangan pasar.

Dalam dialog bersama tim UMI, para pelaku usaha menyampaikan sejumlah harapan agar usaha mereka dapat berkembang lebih baik.

“Kami berharap ada dukungan dalam hal pemasaran, tambahan modal usaha, serta bantuan yang dapat menunjang proses produksi. Kalau pemasaran diperluas dan ada tambahan modal, kami bisa meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas produk,” ujar salah seorang pelaku usaha.

Selain itu, mereka juga menginginkan pelatihan mengenai teknik pengemasan yang lebih menarik, pendampingan pemasaran melalui marketplace, serta bantuan dalam pengurusan izin usaha seperti PIRT dan sertifikasi halal agar produk ikan kering Labuange dapat menembus pasar modern dan jaringan ritel.

Menanggapi aspirasi tersebut, Kasnaeny menilai usaha ikan kering di Labuange memiliki potensi yang besar karena didukung oleh ketersediaan sumber daya laut serta pengalaman masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Meski demikian, tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku, keterbatasan modal, dan pemasaran digital masih perlu mendapat perhatian.

“Jika kebutuhan pelaku usaha terkait pemasaran dan permodalan dapat difasilitasi, ditambah pelatihan branding dan pengemasan, saya yakin produk ikan kering Labuange bisa naik kelas,” katanya.

Ia menambahkan, hasil kajian lapangan ini akan diolah menjadi data penelitian sekaligus rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, perguruan tinggi, dan para pemangku kepentingan dalam menyusun program pendampingan UMKM yang lebih tepat sasaran.

Potensi usaha ikan kering di Dusun Labuange diharapkan dapat semakin berkembang sebagai salah satu produk unggulan daerah yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir.

Sejalan dengan semangat pembangunan Kabupaten Barru, penguatan UMKM juga diharapkan semakin memperkuat daya tarik daerah melalui tagline “Singgah di Barru”, yang mengajak masyarakat dan wisatawan untuk mengenal lebih dekat potensi lokal serta produk unggulan Bumi Colliq Pujie.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *