DENTUMNUSANTARA.COM, MAJENE — Kelangkaan gas LPG 3 kilogram di Kabupaten Majene memicu kemarahan publik, terutama kalangan mahasiswa. Selain sulit ditemukan, harga gas melon itu juga melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Nurul, seorang mahasiswi di Majene, mengaku harus berkeliling sejak sore hingga malam pada Rabu (22/4/2026) untuk mendapatkan LPG 3 kg.
“Sejak magrib saya keliling, tapi semuanya kosong. Setelah isya, saya dapat info di salah satu pengecer di Tunda, Banggae Timur, ada LPG 3 kg. Harganya Rp35 ribu. Karena sudah dua minggu kosong di kos, terpaksa saya beli,” ujarnya.
Kondisi ini membuat mahasiswa terpukul. Gas bersubsidi yang seharusnya untuk masyarakat kecil justru langka dan mahal. Keterbatasan ekonomi membuat mereka makin terbebani.
Aktivis mahasiswa Majene, Nabir, menilai lemahnya pengawasan jadi penyebab utama. Ia menyoroti kinerja Dinas Perdagangan dan aparat kepolisian yang dianggap tidak optimal mengawasi distribusi.
“Ini bukan sekadar kelalaian, ini kegagalan total. Dinas Perdagangan dan polisi tidak becus mengawasi distribusi dan menindak pelanggaran,” tegas Nabir.
Mahasiswa juga mengkritik kepolisian yang dinilai lalai menindak pangkalan dan sub pangkalan yang diduga melanggar aturan distribusi dan harga.
Dalam pertemuan dengan dinas terkait, mahasiswa menyebut pihak dinas membenarkan adanya kelangkaan serta lonjakan harga LPG 3 kg di masyarakat.
Pengakuan serupa datang dari seorang pemilik kios pengecer di Kecamatan Lembang. Ia menyebut harga dari pangkalan tidak stabil, tergantung stok.
“Harganya berubah-ubah, Rp25 ribu sampai Rp35 ribu kalau barang langka. Kami jual kembali menyesuaikan. Kalau beli Rp35 ribu, saya jual Rp45 ribu. Kalau beli Rp25 ribu, saya jual Rp35 ribu,” ungkapnya.
Dampaknya meluas. Aktivitas rumah tangga terganggu, biaya hidup naik, dan usaha kecil seperti warung makan serta pedagang kaki lima terancam.
Mahasiswa mendesak Pemkab Majene segera menginspeksi menyeluruh pangkalan dan jalur distribusi LPG 3 kg. Mereka menuntut penindakan tegas terhadap oknum yang bermain.
“Kalau ini terus dibiarkan, hak masyarakat kecil dirampas secara terang-terangan,” tutup Nabir.
Jika tak segera ditangani, kelangkaan LPG 3 kg di Majene dikhawatirkan makin meluas dan memperparah beban ekonomi warga.





















