Dentumnusantara.comBARRU – Perjalanan panjang sejauh kurang lebih 1.345 kilometer dari Gorontalo menuju Kabupaten Barru bukan sekadar perpindahan tempat bagi Tim PENAS XVII Kabupaten Barru. Lebih dari itu, perjalanan lintas Sulawesi tersebut menjadi penutup yang sarat makna setelah sepekan mengikuti Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani Nelayan 2026.
Di dalam sebuah kendaraan Hiace yang ditumpangi 13 orang, termasuk pengemudi, terangkai kisah tentang kebersamaan, ketulusan, dan rasa syukur. Lelah yang menyertai perjalanan seakan terbayar oleh hangatnya kekeluargaan yang tumbuh sepanjang perjalanan pulang.
Sebelum meninggalkan Gorontalo, rombongan mendapat pelepasan langsung dari Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari. Dalam suasana penuh keakraban, Bupati berpesan agar seluruh rombongan tetap menjaga kekompakan, membawa nama baik Kabupaten Barru, serta mengutamakan keselamatan hingga tiba di kampung halaman.
Pesan sederhana itu menjadi penyemangat yang terus terngiang selama kendaraan melaju menyusuri Jalan Trans Sulawesi, melintasi perbukitan, perkebunan, pesisir, hingga berbagai daerah yang menghubungkan Gorontalo dengan Sulawesi Selatan.
Di balik panjangnya perjalanan, suasana di dalam kendaraan justru dipenuhi kehangatan.
Canda tawa, obrolan ringan, hingga lagu-lagu yang diputar bergantian menjadi teman setia yang mengusir rasa penat. Tidak ada kemewahan yang menyertai perjalanan tersebut, namun kebersamaan menjadi kenyamanan yang tak ternilai.
Di setiap waktu salat, rombongan selalu menyempatkan diri berhenti di masjid-masjid yang ditemui di sepanjang perjalanan. Selain beristirahat sejenak, mereka memanjatkan doa agar seluruh perjalanan diberikan kelancaran dan keselamatan hingga kembali berkumpul bersama keluarga masing-masing.
Perjalanan juga diwarnai singgah di beberapa daerah untuk menikmati kuliner khas setempat maupun membeli buah tangan sebagai oleh-oleh bagi keluarga yang telah menunggu di rumah. Momen-momen sederhana itu menjadi bagian dari kenangan yang memperkaya perjalanan panjang mereka.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi saat rombongan disambut hangat oleh keluarga besar Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB) di Kota Palu. Sambutan penuh keakraban tersebut menjadi pelepas lelah sekaligus bukti eratnya tali persaudaraan masyarakat Barru, meski berada jauh dari kampung halaman.
Keakraban serupa kembali dirasakan ketika rombongan melintasi wilayah Tarailu, Sulawesi Barat. Di sana, warga asal Barru yang merantau menyambut mereka dengan jamuan sederhana namun penuh kehangatan. Suasana kekeluargaan yang tercipta menghadirkan rasa haru, seolah rumah tidak hanya berada di tempat kelahiran, tetapi juga di hati sesama perantau.
Perjalanan panjang itu mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari tempat yang sama, tetapi tumbuh dari kepedulian dan rasa saling memiliki.
Setiap kilometer yang dilalui bukan sekadar mendekatkan rombongan menuju Barru, melainkan juga mempererat persaudaraan di antara mereka.
Saat akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Barru, rasa lelah perlahan berubah menjadi rasa syukur.
Tidak ada pesta penyambutan ataupun kemeriahan yang berlebihan. Namun senyum yang menghiasi wajah setiap anggota rombongan menjadi gambaran kepuasan karena telah menuntaskan perjalanan dengan selamat.
Tim PENAS XVII Kabupaten Barru tidak hanya kembali membawa buah tangan dari Gorontalo. Mereka juga membawa pengalaman, pengetahuan, jejaring persaudaraan, serta kenangan berharga yang akan menjadi bekal untuk terus memajukan sektor pertanian dan perikanan di daerah.
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar tentang kembali ke rumah. Perjalanan ini adalah kisah tentang semangat, doa, persaudaraan, dan kebanggaan membawa nama Kabupaten Barru di ajang nasional, lalu pulang dengan hati yang lebih kaya oleh pengalaman dan rasa syukur.
















