DENTUMNUSANTARA.COM, BARRU — Di tengah arus zaman yang serba cepat dan instan, masih ada sosok yang memilih berjalan perlahan—namun pasti—dengan pena dan gagasan. Dari Mallusetasi, sebuah kecamatan di Kabupaten Barru, lahir seorang penyuluh agama yang menorehkan sejarah melalui tulisan. Namanya Muhammad Fadli Alimuddin, Penyuluh Agama Islam KUA Mallusetasi, sekaligus pelopor gerakan dakwah berbasis literasi di daerahnya.
Muhammad Fadli bukan sekadar menjalankan tugas formal kepenyuluhan. Ia menghadirkan wajah lain dari dakwah: dakwah yang ditulis, dibaca, dan diwariskan lintas waktu. Sebuah ikhtiar sunyi namun bermakna, yang menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian.
Tumbuh dari Nilai, Bertumbuh dengan Tanggung Jawab
Lahir sebagai putra kedua dari pasangan H. Alimuddin, S.Pd. dan Hj. Rusmiati, S.Pd., Muhammad Fadli dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kepercayaan diri. Nilai-nilai inilah yang membentuk karakternya—tenang, konsisten, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Lingkungan keluarga menjadi sekolah pertama baginya, tempat ia belajar bahwa ilmu harus diamalkan, dan pengabdian tidak selalu harus tampak megah. Prinsip tersebut terus ia bawa hingga mengabdikan diri sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Mallusetasi.
Melihat Masalah, Menawarkan Solusi
Dalam tugasnya sehari-hari, Muhammad Fadli bersentuhan langsung dengan realitas umat. Salah satu persoalan yang ia temui adalah keterbatasan khatib di sejumlah masjid, terutama pada waktu-waktu tertentu. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan: menghadirkan solusi dakwah yang praktis, relevan, dan berkelanjutan.
Selama kurang lebih satu tahun, ia menuliskan buah pikirannya hingga terbit sebuah buku berjudul “Literatur-literatur Materi Khutbah Jum’at Berbasis Kontemporer.” Buku ini memuat 23 materi khutbah yang disusun dengan bahasa yang kontekstual, moderat, dan menyentuh persoalan nyata masyarakat.
Buku tersebut bukan hanya menjadi referensi khutbah, tetapi juga cermin kepedulian seorang penyuluh terhadap denyut kehidupan umat yang ia layani.
Dakwah yang Tak Berhenti di Mimbar
Bagi Muhammad Fadli, dakwah tidak harus selalu disampaikan dari atas mimbar. Tulisan adalah medium dakwah yang mampu melintasi ruang dan waktu. Melalui buku, pesan-pesan keagamaan dapat dibaca berulang, direnungkan, dan dijadikan rujukan oleh banyak orang.
“Dakwah bukan hanya soal suara, tetapi juga tentang jejak. Menulis adalah cara mengabadikan nilai-nilai kebaikan,” ungkapnya.
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi catatan sejarah bagi KUA Mallusetasi dan Kabupaten Barru. Muhammad Fadli tercatat sebagai putra asli Mallusetasi pertama yang berhasil menerbitkan buku khutbah Jum’at hasil karya pribadi. Sebuah capaian yang membanggakan, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi generasi muda daerah.
Inspirasi bagi Generasi Muda Mallusetasi
Kiprah Muhammad Fadli menjadi pengingat bahwa pemuda daerah tidak boleh dipandang sebelah mata. Di balik kesederhanaan, tersimpan potensi besar yang menunggu ruang untuk tumbuh. Ia hadir sebagai contoh bahwa anak muda mampu menjadi agen perubahan, asalkan diberi kepercayaan dan ruang untuk berkarya.
Sudah saatnya masyarakat membuka mata terhadap pemuda-pemuda potensial agar tidak terpinggirkan oleh pola pikir yang stagnan. Lingkungan yang adil dan inklusif adalah kunci lahirnya generasi inspiratif yang mencerahkan umat dan membangun peradaban.
Menulis sebagai Warisan Kebaikan
Bagi Muhammad Fadli Alimuddin, buku pertamanya bukanlah titik akhir. Ia justru memandangnya sebagai langkah awal dari perjalanan literasi yang lebih panjang.
“Menulis itu mengabadikan diri dalam khazanah kebaikan. Semoga karya ini menjadi pemantik lahirnya karya-karya lain yang lebih berdampak,” ujarnya penuh harap.
Dari Mallusetasi, ia menulis. Dari tulisan, ia berdakwah. Dan dari dakwah literasi itu, lahirlah inspirasi—bahwa perubahan besar kerap dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dan penuh keikhlasan.
















