Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Memprihatinkan, Irigasi Bendungan Lanrae Rusak dan Dangkal, Petani Sipakainge Harap Segera Ditangani

211
×

Memprihatinkan, Irigasi Bendungan Lanrae Rusak dan Dangkal, Petani Sipakainge Harap Segera Ditangani

Sebarkan artikel ini

BARRU,SULSEL,DENTUMNUSANTARA.COM — Kondisi jaringan irigasi Bendungan Lanrae yang menjadi salah satu penopang pertanian padi di Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, dikeluhkan petani.

Sejumlah titik saluran irigasi mengalami pendangkalan, kerusakan, dipenuhi sampah dan rumput. Bahkan, terdapat bagian saluran yang jebol sehingga berpotensi menghambat aliran air menuju lahan persawahan.

Kondisi tersebut dikeluhkan Kelompok Tani Sipakainge yang mengelola sekitar 38 hektare lahan persawahan dengan anggota kurang lebih 30 orang di Dusun Topporeng, Desa Nepo.

Ketua Kelompok Tani Sipakainge, Suardi Sele, menyampaikan keluhan tersebut kepada awak media, Kamis (1/10/2026). Menurutnya, beberapa titik saluran, termasuk BTP 4 dan BTP 5, membutuhkan perhatian dan penanganan dari pihak terkait.

“Pendangkalan akibat tumpukan tanah membuat aliran air tidak berjalan dengan baik. Ada juga bagian dinding saluran yang jebol sehingga air tidak tersalurkan secara optimal sampai ke hilir,” ujar Suardi.

Ia mengaku khawatir kondisi tersebut akan mengganggu kebutuhan air bagi petani, terlebih dalam waktu dekat para petani akan memasuki musim tanam pertama (MT I).

“Yang kami khawatirkan, kalau kondisi ini tidak segera ditangani, air tidak bisa mengalir dengan baik sampai ke lahan persawahan kami. Apalagi tidak lama lagi petani akan memasuki musim tanam MT I,” katanya.

Selain pendangkalan dan kerusakan, saluran irigasi juga terlihat dipenuhi sampah dan ditumbuhi rumput. Bahkan, terdapat pohon tumbang di atas saluran yang berpotensi menghambat aliran air dan menyebabkan penumpukan sampah.

Di tengah keterbatasan, para petani berupaya melakukan gotong royong membersihkan saluran menggunakan peralatan seadanya. Tumpukan tanah dikeluarkan secara manual, sementara bagian saluran yang jebol ditangani sementara menggunakan tanah dan seng bekas.

Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan secara keseluruhan karena material yang menumpuk cukup banyak dan kemampuan petani terbatas.

Suardi mengatakan, kondisi saluran tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada petugas bendungan atau irigasi. Namun, pihaknya masih berharap adanya peninjauan langsung dan tindak lanjut dari instansi yang berwenang.

“Kami sangat berharap pihak terkait turun langsung melihat kondisi di lapangan. Kami tidak meminta yang berlebihan, kami hanya berharap saluran irigasi ini diperbaiki dan dipelihara agar air bisa sampai ke sawah petani,” ungkapnya.

Menurut Suardi, persoalan irigasi tidak hanya menyangkut kepentingan Kelompok Tani Sipakainge, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan usaha pertanian masyarakat di wilayah tersebut.

Para petani berharap perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi dapat dilakukan sebelum musim tanam berlangsung. Dengan kondisi saluran yang baik, kebutuhan air untuk persawahan diharapkan dapat terpenuhi sehingga proses pertanaman dan produksi padi berjalan optimal.

“Harapan kami sederhana, bagaimana sawah kami bisa mendapatkan air dengan baik. Kami ingin bertani dengan tenang dan menghasilkan produksi yang maksimal untuk mendukung ketahanan dan swasembada pangan,” tutup Suardi.

Kelompok Tani Sipakainge diketahui memiliki sekitar 30 anggota dengan luas lahan persawahan kurang lebih 38 hektare di Dusun Topporeng, Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.(*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *