Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Parepare

Kemarau Panjang dan Angin Kencang, PLTU Perkuat Antisipasi Debu dan Salurkan Air Bersih ke Warga

106
×

Kemarau Panjang dan Angin Kencang, PLTU Perkuat Antisipasi Debu dan Salurkan Air Bersih ke Warga

Sebarkan artikel ini

PAREPARE, DENTUMNUSANTARA.COM — Musim kemarau panjang yang disertai angin kencang membuat persoalan debu dan keterbatasan air bersih menjadi perhatian masyarakat di sekitar kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pengelola PLTU. Sejumlah langkah dilakukan untuk mengantisipasi sebaran debu, sekaligus membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

Asisten Manajer Administrasi PLTU, Muhammad Budi Setiawan, mengatakan kondisi angin menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi, terutama terhadap potensi penyebaran debu di sekitar kawasan pembangkit.

Untuk mengurangi dampaknya, pihak PLTU melakukan penyiraman di sejumlah area dan akses jalan masyarakat. Paranet serta terpal juga dipasang pada beberapa titik yang dinilai rawan terhadap sebaran debu.

“Kami tetap melakukan antisipasi dengan penyiraman. Kemudian ada beberapa titik yang kami pasang paranet dan terpal yang sekiranya cukup riskan terhadap sebaran abu,” ujar Budi Setiawan.

Air Bersih Jadi Kebutuhan Utama

Selain persoalan debu, kekeringan membuat kebutuhan air bersih masyarakat menjadi perhatian.

Budi Setiawan mengatakan pihak PLTU turut menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di sekitar kawasan yang mengalami kesulitan mendapatkan air.

Kondisi tersebut terjadi karena sebagian sumber air masyarakat mengalami penurunan akibat musim kemarau.

Selain air bersih, pihak PLTU juga memberikan bantuan sembako dan masker kepada masyarakat sebagai bentuk dukungan selama kondisi kemarau.

Respons masyarakat terhadap bantuan tersebut disebut cukup baik. Sebagian warga sekitar juga diketahui bekerja di lingkungan PLTU sehingga memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas pembangkit.

Operasional PLTU Tetap Berjalan

Meski menghadapi kondisi kemarau dan angin kencang, operasional PLTU disebut tetap berjalan normal.

PLTU menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utama sehingga kondisi kekeringan tidak secara langsung menghambat proses pembangkitan seperti yang dapat terjadi pada pembangkit yang bergantung pada debit air.

Pembangkit tersebut saat ini berkontribusi sekitar 200 megawatt terhadap sistem kelistrikan yang melayani Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat.

Menurut Budi Setiawan, kapasitas tersebut sudah berada pada kapasitas maksimal yang dikontribusikan ke sistem.

Sementara itu, kondisi kemarau dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap pembangkit listrik tenaga air (PLTA) karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama dalam proses pembangkitan.

Pemadaman Bukan Berarti PLTU Berhenti Beroperasi

Budi Setiawan juga menjelaskan masih adanya pemahaman di masyarakat yang mengaitkan pemadaman listrik dengan operasional PLTU.

Menurutnya, PLTU berfungsi sebagai pembangkit yang memproduksi listrik, sedangkan pengaturan beban dan distribusi listrik berada pada sistem pengaturan PLN.

Dengan demikian, apabila suatu wilayah masuk dalam jadwal pemadaman, hal tersebut tidak otomatis berarti PLTU berhenti beroperasi.

Air Laut Diolah untuk Kebutuhan Pembangkit

Dalam memenuhi kebutuhan air untuk operasional, PLTU tidak hanya mengandalkan sumber air tawar.

Air laut dimanfaatkan dan diolah melalui desalination plant untuk menghasilkan air yang sesuai dengan kebutuhan pembangkit.

Air hasil pengolahan tersebut digunakan antara lain untuk mendukung proses pendinginan, kebutuhan operasional pembangkit, serta sistem hidran untuk penanganan kebakaran.

Ketersediaan cadangan air juga menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan pembangkit.

Pengelola Siapkan Pengobatan Gratis

Selain penanganan lingkungan,Budi Setiawan menyampaikan adanya program pengobatan gratis bagi masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan masyarakat sekitar.

Jika terdapat warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan dan mengaitkannya dengan paparan debu, pihak PLTU menyatakan siap melakukan pendampingan untuk mengetahui penyebab keluhan tersebut.

Pengelola menekankan bahwa keluhan kesehatan seperti batuk maupun gangguan kulit perlu diperiksa secara medis untuk mengetahui penyebabnya dan tidak langsung disimpulkan berasal dari paparan debu.

Tidak Ada Rencana Tambahan PLTU Batu Bara

Terkait pengembangan pembangkit ke depan,Budi Setiawan menyebut belum ada rencana penambahan unit PLTU berbahan bakar batu bara di lokasi tersebut.

Arah pengembangan pembangkit kini lebih banyak mengarah pada energi baru terbarukan, termasuk potensi tenaga angin dan tenaga air.

Menurutnya, potensi energi terbarukan di wilayah Sulawesi masih cukup besar, namun pengembangannya juga menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan investasi dan kesiapan sistem kelistrikan.

Paranet Tambahan Dipersiapkan

Untuk menghadapi kondisi kemarau yang masih berlangsung, pengelola PLTU menyatakan akan terus melakukan penyiraman serta memperkuat pengendalian sebaran debu.

Pemasangan paranet tambahan juga sedang dipersiapkan melalui proses perencanaan dan pengadaan.

Budi Setiawan berharap hujan segera turun sehingga kekeringan yang dialami masyarakat dapat berkurang dan potensi sebaran debu akibat kondisi angin juga semakin terminimalisir.

“Kami berharap segera turun hujan agar dampak kekeringan dan debu bisa lebih diminimalkan. Kami juga akan terus berupaya memberikan dukungan kepada masyarakat,” tutupnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *