Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Hadapi Puncak Kemarau, Polres Barru Gelar Apel Kesiapsiagaan Karhutla

53
×

Hadapi Puncak Kemarau, Polres Barru Gelar Apel Kesiapsiagaan Karhutla

Sebarkan artikel ini

Dentumnusantara.comBARRU — Menghadapi potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tengah musim kemarau, Kepolisian Resor (Polres) Barru menggelar Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Karhutla di halaman Mapolres Barru, Selasa (11/8/2026).

Apel tersebut dipimpin langsung Kapolres Barru AKBP Ananda Fauzi Harahap dan dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Barru A. Syarifuddin yang mewakili Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Barru, para Kapolsek, serta unsur pemerintah daerah dan instansi terkait.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman Karhutla di wilayah Kabupaten Barru.

Dalam amanatnya, Kapolres Barru AKBP Ananda Fauzi Harahap menekankan bahwa penanganan Karhutla tidak boleh hanya mengandalkan tindakan ketika kebakaran telah terjadi. Upaya pencegahan, deteksi dini, pemetaan wilayah rawan, serta respons cepat harus menjadi prioritas.

“Setiap informasi mengenai indikasi kebakaran harus segera ditindaklanjuti agar api tidak berkembang dan meluas,” tegasnya.

Kapolres juga meminta seluruh jajaran meningkatkan patroli dan pemantauan di wilayah yang memiliki potensi kerawanan kebakaran. Kesiapan personel harus dibarengi dengan dukungan peralatan operasional yang memadai, mulai dari mesin pompa air, kendaraan operasional, alat perlindungan diri hingga perlengkapan pemadaman lainnya.

Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam amanat apel, kondisi musim kemarau 2026 di Sulawesi Selatan tergolong tidak normal dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekeringan sekaligus risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menghadapi potensi tersebut.
Selain kesiapan personel dan peralatan, pemanfaatan teknologi juga didorong untuk memperkuat sistem deteksi dini.

Pemantauan titik panas hingga penggunaan drone dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses deteksi, verifikasi dan penanganan apabila ditemukan indikasi kebakaran.

Kapolres turut mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat, terutama mengenai bahaya membuka atau mengolah lahan dengan cara membakar. Penguatan posko terpadu juga diperlukan agar koordinasi antarinstansi dapat berlangsung cepat apabila terjadi kebakaran.

Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan Karhutla. Seluruh personel yang bertugas di lapangan juga diminta mengutamakan keselamatan dan kesehatan selama menjalankan tugas.

Sementara itu, Sekda Barru A. Syarifuddin menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Barru untuk memperkuat dukungan dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi Karhutla.
Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi, bukan setelah api mulai membesar.

“Kita perlu membangun pola kerja yang terintegrasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, perangkat kecamatan dan desa, serta unsur masyarakat. Dengan koordinasi yang solid dan komunikasi yang cepat, setiap potensi kebakaran dapat segera diidentifikasi dan ditangani sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar,” ujarnya.

Apel tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa menghadapi musim kemarau membutuhkan kesiapan bersama.

Dengan memperkuat pencegahan, meningkatkan kewaspadaan dan memastikan respons cepat di lapangan, potensi Karhutla di Kabupaten Barru diharapkan dapat ditekan sedini mungkin.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *