Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Jejak Kebaikan Tak Pernah Wafat” — Bupati Barru Kenang H. Andi Soewandi Tjanggo, Pesan Amanah Menggetarkan Hati Pelayat

98
×

Jejak Kebaikan Tak Pernah Wafat” — Bupati Barru Kenang H. Andi Soewandi Tjanggo, Pesan Amanah Menggetarkan Hati Pelayat

Sebarkan artikel ini

Dentumnusantara.comPAREPARE – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar almarhum H. Andi Soewandi Tjanggo, S.H., yang wafat pada usia 69 tahun. Ribuan doa mengalir dari keluarga, sahabat, tokoh masyarakat, hingga para pelayat yang memadati rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal sederhana, amanah, dan rendah hati.

Di antara para pelayat tampak hadir Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, bersama Wali Kota Parepare, Tasming Hamid. Kehadiran kedua kepala daerah tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan belasungkawa atas berpulangnya almarhum yang selama hidupnya dikenal memiliki hubungan baik dengan berbagai kalangan.

Suasana takziah berlangsung penuh kekhusyukan ketika Ustaz Dr. Zulfajar Najib Haddade menyampaikan tausiah yang tidak hanya mengingatkan jamaah tentang hakikat kehidupan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan yang diwariskan almarhum semasa hidupnya.
Dalam tausiahnya, Ustaz Zulfajar mengisahkan sebuah pesan yang pernah disampaikan langsung oleh almarhum kepadanya saat pertama kali bertemu.

“Nak, ingat pesanku. Nigi-nigi mewa sipettuada, aja’na mulesse’ purae mupettu’i.”

Pesan sederhana dalam bahasa Bugis itu, menurutnya, memiliki makna yang sangat mendalam. Siapa pun yang lebih dahulu membuat janji atau meminta bantuan harus diprioritaskan tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kedudukan.

“Jangan sampai karena datang orang yang lebih tinggi jabatannya, kita membatalkan janji dengan orang yang lebih dahulu meminta. Amanah harus dijaga dan semua orang harus diperlakukan dengan adil,” tutur Ustaz Zulfajar di hadapan jamaah.

Ia pun mengaku pernah menerapkan pesan tersebut ketika mendapat undangan menjadi khatib Salat Idulfitri dari Wali Kota Parepare. Meski undangan itu merupakan sebuah kehormatan, ia memilih tetap memenuhi undangan yang telah lebih dahulu diterimanya.

“Bukan karena ingin meninggikan diri, tetapi saya ingin menjaga amanah. Nama baik dan kepercayaan orang jauh lebih mahal daripada jabatan ataupun kehormatan,” ungkapnya.

Menurutnya, keteladanan seperti itulah yang menjadi warisan paling berharga dari almarhum H. Andi Soewandi Tjanggo.
Mewakili keluarga besar, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah hadir memberikan doa serta dukungan kepada keluarga.

Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Parepare yang menyempatkan hadir di tengah kesibukannya, serta kepada seluruh pelayat yang datang karena ikatan silaturahmi dan kecintaan kepada almarhum.

“Atas nama keluarga besar almarhum, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh hadirin. Saya yakin kehadiran kita di tempat ini bukan karena keterpaksaan, tetapi karena rasa cinta, hormat, dan persaudaraan kepada almarhum,” ujarnya.

Sebagai sepupu almarhum, Andi Ina mengaku terharu melihat begitu banyak masyarakat yang datang bertakziah. Baginya, membludaknya pelayat menjadi bukti bahwa almarhum adalah pribadi yang dicintai dan meninggalkan kesan mendalam di hati banyak orang.

“Insya Allah, kita semua meyakini almarhum adalah orang baik. Seluruh perhatian, doa, dan dukungan yang diberikan sejak beliau sakit hingga hari ini menjadi amal jariyah bagi kita semua, sekaligus menjadi doa terbaik untuk almarhum,” tuturnya.

Ia juga mengajak seluruh jamaah untuk terus mendoakan almarhum serta memberikan dukungan kepada istri almarhum, Hj. Andi Farida, beserta ketiga anaknya agar diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini.

Menutup sambutannya, Bupati Barru mengingatkan bahwa wafatnya almarhum menjadi pengingat bagi setiap manusia untuk terus memperbanyak amal saleh karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemput.

“Usia bukanlah jaminan. Cepat ataupun lambat, kita semua akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, mari memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang abadi,” pesannya.
Almarhum H. Andi Soewandi Tjanggo, S.H. meninggalkan seorang istri, Hj. Andi Farida, serta tiga orang anak.

Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat yang mengenalnya sebagai pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran, memegang teguh amanah, serta menghormati setiap orang tanpa memandang kedudukan.

Di mata mereka yang mengenalnya, almarhum mungkin telah berpulang. Namun nilai-nilai kehidupan yang ia wariskan—tentang menjaga amanah, menepati janji, dan memuliakan sesama—akan terus hidup dan menjadi teladan bagi generasi yang ditinggalkan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *