Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
HiburanDaerahSidrap

Mendadak Ngamen di Rumah Jabatan, Tri Suaka Bikin Malam Sidrap Berdenyut

131
×

Mendadak Ngamen di Rumah Jabatan, Tri Suaka Bikin Malam Sidrap Berdenyut

Sebarkan artikel ini

DENTUMNUSANTARA.COM, SIDRAP — Malam di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Senin (27/4/2026), berubah jadi ruang temu yang hangat antara musik, pemimpin daerah, dan warganya. Tanpa panggung megah, tanpa tata cahaya berlebihan, hanya area parkir yang disulap menjadi titik berkumpul—namun justru di situlah denyut Sidrap terasa paling hidup.

Di balik momen itu, ada sosok Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif (SAR), yang dikenal tak hanya piawai memimpin, tetapi juga punya kecintaan besar pada musik dan keramaian. Setelah sebelumnya sukses membawa Sidrap menjadi salah satu dari delapan daerah penyelenggara Audisi Dangdut Academy (DA) 8 Indosiar, SAR kembali menghadirkan kejutan: mengundang musisi akustik asal Yogyakarta, Tri Suaka.

Konsepnya sederhana Mendadak Ngamen, Namun responsnya jauh dari biasa.

Sejak awal penampilan, muda-mudi, terutama kalangan ABG, mulai memadati lokasi. Mereka datang bukan sekadar menonton, tetapi ikut larut. Suara gitar yang dipetik sederhana berpadu dengan vokal khas Tri Suaka, mengalir di antara kerumunan yang kian membesar.

“Ayo, ramaikan. Luar biasa,” seru SAR, memberi semangat dari tengah suasana yang riuh namun akrab.

Di sisi lain, kehadiran Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, menambah nuansa kolaborasi antardaerah. Bahkan, Tri Suaka dijadwalkan melanjutkan penampilannya ke Parepare keesokan malam. “Setelah di sini, Tri Suaka juga ditunggu besok malam tampil di Parepare. Ini Pak Wali Kota jemput,” ujar SAR, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Sidrap, Haslinda Syaharuddin.

Lagu-lagu yang dibawakan terasa dekat dengan penonton. “Aku Bukan Jodohnya” dan “Pergilah Kasih” mengalun, disambut koor massal dari penonton yang hafal tiap liriknya. Namun momen paling berkesan justru hadir ketika penonton meminta lagu Bugis.

Dengan rendah hati, Tri Suaka memenuhi permintaan itu. “Tapi sebelumnya saya minta maaf kalau ada lirik yang tidak sesuai. Karena saya bukan orang Bugis, tapi asli Kaili, Sulawesi Tengah,” ucapnya.

Lagu “Balo Lipa” pun mengalun, disusul “Mula Macenning Cappa’ Makessing” milik Abi Rafdi, artis Bugis asal Sidrap yang disebut sebagai salah satu favoritnya. Riuh penonton berubah menjadi paduan suara spontan.

Seiring waktu berjalan, jumlah penonton terus bertambah. Tidak ada sekat antara artis dan warga, tidak ada jarak antara pemimpin dan masyarakat. Yang ada hanyalah kebersamaan, sesuatu yang mungkin sulit dirancang, tetapi terasa nyata malam itu.

Tri Suaka sendiri, yang memiliki nama asli Tri Aji Suaka, dikenal sebagai penyanyi solo yang kerap tampil kolaboratif, terutama bersama Nabila Maharani. Popularitasnya tumbuh dari panggung-panggung sederhana di Yogyakarta, seperti Pendopo Lawas hingga Menoewa Kopi—dan malam itu, nuansa yang sama ia bawa ke Sidrap.

Di tengah gemuruh tepuk tangan dan suara yang tak kunjung reda, satu hal terasa jelas: musik telah menjadi jembatan. Dan di Sidrap, jembatan itu tidak hanya menghubungkan nada dan lirik, tetapi juga hati banyak orang dalam satu malam yang sulit dilupakan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *