Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
UMS RappangPendidikan

Mahasiswa S2 Bahasa Indonesia UMS Rappang Ikuti Pembekalan di Thailand Jelang Agenda Benchmarking Internasional

120
×

Mahasiswa S2 Bahasa Indonesia UMS Rappang Ikuti Pembekalan di Thailand Jelang Agenda Benchmarking Internasional

Sebarkan artikel ini

DENTUMNUSANTARA.COM, THAILAND — Sebanyak sembilan mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), mengikuti program benchmarking internasional ke tiga negara, yakni Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Program yang berlangsung selama sepekan, mulai 28 April hingga 5 Mei 2026 ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam memperluas wawasan akademik mahasiswa di tingkat global sekaligus memperkuat kapasitas keilmuan berbasis pengalaman lintas negara.

Pada Kamis (30/4/2026), para mahasiswa berada di Thailand untuk mengikuti sejumlah agenda akademik. Sebelum menjalani rangkaian kegiatan tersebut, peserta terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari Prof. Dr. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si., yang juga turut mendampingi kegiatan benchmarking.

Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UMS Rappang, Dr. Yusmah, M.Hum., menjelaskan bahwa pembekalan menjadi tahapan penting agar mahasiswa memiliki arah dan fokus dalam mengikuti seluruh agenda internasional.

“Pembekalan ini bertujuan agar mahasiswa tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi mampu memahami, mengamati, sekaligus mengevaluasi setiap pengalaman akademik yang diperoleh selama di luar negeri,” ujar Dr. Yusmah, Kamis.

Ia menegaskan, program benchmarking tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran akademik yang terintegrasi dengan mata kuliah, bukan sekadar perjalanan luar negeri.

Menurutnya, mahasiswa didorong memiliki kepekaan terhadap berbagai aspek, mulai dari penggunaan bahasa, dinamika budaya, praktik literasi, hingga pemanfaatan teknologi di negara yang dikunjungi.

“Mahasiswa harus mampu menghubungkan pengalaman nyata di lapangan dengan kajian akademik Bahasa Indonesia, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif,” katanya.

Lebih lanjut, Dr. Yusmah menjelaskan bahwa kegiatan ini juga diarahkan untuk menghasilkan luaran akademik berupa laporan, analisis, refleksi kritis, hingga rekomendasi yang dapat berkontribusi pada pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam pembekalan tersebut, mahasiswa juga ditekankan untuk membangun perubahan pola pikir selama mengikuti program internasional, dari sekadar peserta perjalanan menjadi pembelajar akademik yang aktif.

Mahasiswa diharapkan mampu bertransformasi dari anggota rombongan menjadi pengamat bahasa, dari penikmat pengalaman menjadi pembaca budaya, serta dari dokumentasi pribadi menjadi pengolah data akademik.

“Pada akhirnya, pengalaman yang diperoleh tidak berhenti sebagai cerita perjalanan, tetapi dapat memberi dampak dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” tutup Yusmah.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *