Scroll keatas untuk lanjut baca artikel berita lainnya
Example 314x314
Example floating
Example floating
Example 728x250
Barru

Singgah di Barru” Mulai Menggema di Jakarta, Kemenpar RI Siap Dorong Barru Jadi Magnet Wisata Baru Sulsel

137
×

Singgah di Barru” Mulai Menggema di Jakarta, Kemenpar RI Siap Dorong Barru Jadi Magnet Wisata Baru Sulsel

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

DENTUMNUSANTARA.COM, Jakarta – Upaya Pemerintah Kabupaten Barru mengubah wajah daerah dari sekadar jalur lintasan menjadi destinasi wisata unggulan mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Komitmen itu mengemuka saat Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis bagi Pemkab Barru untuk memperkenalkan potensi wisata daerah sekaligus membangun sinergi pengembangan pariwisata bersama Kementerian Pariwisata.

Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari hadir didampingi Sekretaris Daerah Barru A. Syarifuddin, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan dan Olahraga, serta sejumlah jajaran Pemerintah Kabupaten Barru.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan pentingnya promosi digital dalam memperkuat daya saing destinasi wisata daerah. Bahkan, Kementerian Pariwisata saat ini tengah mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama “Maya” yang diproyeksikan menjadi asisten digital promosi pariwisata Indonesia.

“Kalau nanti orang bertanya kepada Maya, ‘Kalau ke Sulawesi Selatan sebaiknya ke mana?’, kenapa tidak Barru yang muncul pertama? Ini yang harus kita dorong bersama. Daerah perlu aktif memberikan data dan informasi agar potensi wisatanya semakin dikenal luas,” ujar Ni Luh Puspa.

Selain promosi digital, Wamenpar juga menilai penguatan event berbasis budaya dan kearifan lokal menjadi strategi penting dalam meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menegaskan bahwa sejak awal kepemimpinannya, dirinya bertekad membangun identitas baru Kabupaten Barru sebagai daerah tujuan wisata.

“Ketika saya dilantik menjadi Bupati Barru, saya langsung menggaungkan tagline ‘Singgah di Barru’.

Karena selama ini orang hanya melewati Barru tanpa berhenti. Padahal, agar orang mau singgah, tentu harus ada alasan mengapa mereka harus berhenti dan menikmati Barru,” ungkapnya.

Menurut Andi Ina, salah satu langkah awal yang dilakukan pemerintah daerah ialah membenahi wajah kota dan meningkatkan penerangan jalan. Ia mengakui bahwa selama ini Barru dikenal sebagai daerah yang gelap saat malam hari sehingga kurang menarik bagi pengguna jalan untuk berhenti.

“Alhamdulillah sekarang Barru sudah jauh berbeda. Ketika orang melintas pada malam hari, mereka mulai melihat wajah kota yang terang dan hidup. Ini langkah awal membangun rasa penasaran masyarakat terhadap Barru,” katanya.

Bupati perempuan
pertama di Kabupaten Barru itu juga memaparkan konsep wisata tiga dimensi yang menjadi kekuatan utama daerahnya, yakni wisata pegunungan, daratan dan laut yang tersebar di tujuh kecamatan.
Keunggulan tersebut diperkuat dengan keberadaan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional GURILA (Gunung, Rimba, Lembah dan Laut) yang telah masuk dalam program pembangunan nasional.

“Barru memiliki kekayaan alam yang lengkap. Kami punya pegunungan yang indah, lembah, hutan hingga garis pantai sepanjang 78 kilometer. Ini menjadi modal besar dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.

Salah satu destinasi yang mendapat perhatian khusus dalam audiensi tersebut adalah Pulau Pannikiang di Kecamatan Balusu. Pulau ini dikenal memiliki ekosistem mangrove unik yang menjadi habitat ribuan kelelawar dan burung bangau yang hidup berdampingan dalam satu kawasan.

Sekretaris Daerah Barru A. Syarifuddin menjelaskan bahwa Pulau Pannikiang memiliki daya tarik konservasi yang potensial untuk pasar wisatawan mancanegara.

“Pulau Pannikiang bukan sekadar wisata mangrove. Wisatawan asing yang pernah kami dampingi sangat terkesan dengan fenomena koloni kelelawar yang hidup di kawasan tersebut. Ini merupakan potensi ekowisata kelas internasional,” ujarnya.

Selain Pulau Pannikiang, Pemkab Barru juga mempromosikan Lappa Laona sebagai destinasi unggulan dataran tinggi. Kawasan yang berada di ketinggian sekitar 1.000 mdpl itu menawarkan hamparan padang hijau, udara sejuk serta panorama alam yang memukau sehingga kerap dijuluki sebagai “Lolai-nya Barru”.

“Kami ingin mengembangkan Lappa Laona bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi sebagai kawasan ekowisata terpadu yang dipadukan dengan peternakan sapi perah, agrowisata dan edukasi lingkungan,” kata Andi Ina.

Konsep tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui produksi susu segar sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri olahan susu di Kabupaten Barru.

Tak hanya wisata alam, Barru juga memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya daerah. Salah satunya sosok Colliq Pujié atau Retna Kencana yang dikenal berjasa menyelamatkan naskah epik dunia I La Galigo.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Pariwisata menilai I La Galigo merupakan aset budaya dunia yang memiliki nilai jual tinggi untuk dikembangkan menjadi wisata berbasis budaya.

“I La Galigo sudah mendunia. Ini harus dipromosikan lebih kuat lagi. Bisa dibuat paket wisata, pertunjukan budaya hingga jejak sejarah yang membuat wisatawan datang mengenal lebih jauh warisan budaya tersebut,” ujar Ni Luh Puspa.

Selain itu, Barru juga memiliki Desa Wisata Nepo yang dikenal sebagai kampung kecil Presiden ke-3 RI B.J. Habibie serta Desa Wisata Paccingke yang menyimpan sejarah perjuangan lahirnya TNI di Sulawesi.

Dalam audiensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Barru turut menyampaikan sejumlah tantangan pengembangan pariwisata, terutama keterbatasan fiskal dan kebutuhan infrastruktur menuju destinasi wisata.

Meski demikian, Kementerian Pariwisata menilai Barru memiliki posisi strategis karena dekat dengan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dilintasi jalur Kereta Api Trans Sulawesi, serta berada pada koridor destinasi unggulan Sulawesi Selatan.

Kementerian Pariwisata juga membuka peluang kolaborasi melalui Politeknik Pariwisata Makassar untuk mendampingi Pokdarwis, pelatihan penyusunan paket wisata, digital marketing, pengembangan desa wisata hingga peningkatan kapasitas SDM pariwisata.

Menutup paparannya, Bupati Barru menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata bukan sekadar membangun destinasi, tetapi juga menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi daerah.

Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barru meningkat dari 4,93 persen pada tahun 2024 menjadi 5,16 persen pada tahun 2025.

“Harapan kami sederhana, bagaimana Barru tidak lagi hanya menjadi daerah yang dilewati, tetapi menjadi daerah yang dicari dan dikunjungi. Dengan dukungan Kementerian Pariwisata serta kolaborasi seluruh pihak, kami optimistis Barru dapat tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan di Sulawesi Selatan bahkan Indonesia,” pungkasnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *