DENTUMNUSANTARA.COM, SIDRAP — Menindaklanjuti Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) tentang penyesuaian pola kerja dan kegiatan akademik, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) mulai menerapkan sistem work from home (WFH) yang dipadukan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara proporsional.
Kebijakan tersebut diberlakukan selama tiga hari dalam sepekan, yakni setiap Kamis hingga Sabtu.
Sebagai penunjang PJJ, UMS Rappang telah memiliki fasilitas Learning Management System (LMS) yang dapat diakses oleh dosen dan mahasiswa. Untuk mengoptimalkan pemanfaatannya, pihak kampus menggelar kegiatan penyegaran dan peningkatan kompetensi dosen dalam pembelajaran daring berbasis OpenLearning.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa (14/4/2026) di lantai 3 Gedung Rektorat dan diikuti oleh dosen dari seluruh program studi. Acara dibuka langsung oleh Rektor UMS Rappang, Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si., serta dihadiri jajaran pimpinan, mulai dari Wakil Rektor I hingga Wakil Rektor IV.
Dalam sambutannya, Prof. Jamaluddin menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi transformasi digital di dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa proses pembelajaran tidak lagi harus bergantung pada kehadiran fisik di ruang kelas.
“Kita harus mengubah mindset. Proses pembelajaran bisa berjalan di mana saja, tidak harus selalu di kampus,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi, termasuk dalam pemanfaatan platform digital yang telah tersedia. Ia juga mengungkapkan telah menerima undangan dari Google untuk mempelajari pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, termasuk penggunaan kecerdasan buatan seperti Gemini.
“Kita harus siap menghadapi perubahan. Teknologi seperti Google dan berbagai platform digital sudah sangat lengkap untuk mendukung pembelajaran,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya optimalisasi LMS yang selama ini telah disediakan oleh kampus. Sistem tersebut, kata dia, telah memuat berbagai fitur akademik, mulai dari penyusunan capaian pembelajaran lulusan (CPL), capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK), hingga portofolio mahasiswa.
“Kalau sudah dibayar tapi tidak digunakan, tentu sangat disayangkan. Padahal semua perangkat pembelajaran sudah tersedia di sistem,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa LMS bukan sekadar memindahkan kelas ke platform konferensi video seperti Zoom, melainkan menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur dan terintegrasi.
“Kalau Zoom itu hanya memindahkan kelas ke laptop. Tapi LMS membuat pembelajaran menjadi lebih sistematis dan terstruktur,” jelasnya.
Selain itu, dosen diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada mahasiswa terkait perubahan metode pembelajaran, mengingat masih adanya persepsi yang mengaitkan layanan pendidikan dengan kehadiran fisik di kelas.
Menurut Prof. Jamaluddin, pemanfaatan teknologi digital merupakan bagian dari upaya meningkatkan daya saing global perguruan tinggi.
“Kita ingin berdampak global. Platform seperti OpenLearning memungkinkan itu, sama halnya dengan publikasi ilmiah yang terindeks internasional,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh dosen untuk tidak ragu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk dalam mengatasi kendala bahasa dengan memanfaatkan berbagai alat bantu digital yang kini tersedia.
















